Nilai-nilai dibalik Tradisi Sedekah Bumi, bukan lagi perkara Ketauhidan
Indonesia
yang terkenal di kancah dunia dengan luasnya wilayah serta beragam suku,
terkandung segudang kekayaan budaya serta kekayaan alam didalamnya. Salah satu
yang menjadi pusat perhatian yaitu suku jawa yang mempunyai beragam kebudayaan,
salah satu contoh dari kekayaan budaya jawa adalah sedekah bumi.
sedekah
bumi merupakan kebudayaan yang awal mula merupakan berwujudan nilai-nilai Animisme
dan Dinamisme yang mendapat pengaruh dari ajaran Hindu-Buddha, sesuai dengan kepercayaan
pendahulu masyarakat Jawa. Sebenarnya kepercayaan ini telah dikenal oleh bangsa
Indonesia sebelum Hindu-Budha masuk. lalu terjadi akultirasi setelah
hindu-budha masuk.
Nilai-nilai
animisme dan dinamisme yang tampak dari sedekah bumi antara lain berupa
pemotongan hewan yang ditujukan sebagai persembahan kepada roh halus, jika
tidak dilaksanakan, penduduk khawatir akan terkena murka roh halus berupa
bencana alam, atau gagal panen warga setempat.
Namun
seiring masuk dan berkembangnya Ajaran Islam ke bumi jawa dan nusantara oleh
wali sembilan dengan konsep akulturasi budaya, yakni tanpa menghapus budaya
atau istiadat yang berkembang namun mengubah nilai-nilai yang terkandung di
dalamnya agar sesuai dengan syariat Islam, sehingga terjadi perubahan paradigma
pelaku budaya terhadap tradisi dan adat istiadat masyarakat yang berkembang.
Pelaksanaan
sedekah bumi bukan lagi sebagai ritual tolak bala atau persembahan kepada roh
halus, melainkan sebagai tradisi leluhur yang harus di jalankan sebagai warisan
yang menjadi kekayaan budaya masyarakat. Salah satu yang mengalami pergeseran
paradigma itu adalah sedekah bumi laut Pisungsung Jaladri di Pantai Baru, Kecamatan Sanden,
Bantul Yogyakarta.
Sedekah bumi merupakan Sebuah
prosesi upacara adat warga pesisir sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada
Yang Maha Kuasa atas rahmat yang telah diberikan selama ini. Hasil laut yang
melimpah merupakan pemberian Yang Maha Kuasa dan dianggap berkah tersendiri
oleh masyarakat sepanjang pantai selatan.
Hampir di setiap penggal pantai,
masyarakatnya melakukan penyelenggaraan tradisi sedekah laut. Namun intinya
sama yaitu bersyukur dengan melarung (membuang) beberapa piranti upacara adat
sedekah laut tersebut.
Sesepuh pantai selatan, Kecamatan
Sanden, Samiyo mengatakan warga pesisir melaksanakan sedekah laut sebagai wujud
rasa syukur atas keselamatan dan hasil bumi yang mencukupi. Biasanya,
pelaksanaannya memang paling banyak di bulan Suro, namun ada juga yang
melaksanakan di bulan lain.
"Tradisi ini sebenarnya sudah
turun-temurun. Tidak banyak yang tahu mungkin, karena tidak banyak terekspos.
Namun sejak pantai selatan banyak dibuka untuk pariwisata, maka justru banyak
dikemas dalam bentuk event untuk menarik wisatawan," tutur laki-laki
yang juga menjabat sebagai penasehat Pokdarwis tersebut, Mingu (14/10/2018).
Dalam sedekah laut tersebut memang
ada sebagian warga yang melarung kepala, kulit, dan kaki kambing kendit
(kambing jantan hitam yang bagian perut terdapat garis putih melintang) ke laut
selatan. Selain itu, ada juga sejumlah ubo rampe seperti bunga tujuh warna,
pisang, dan nasi tumpeng. Biasanya, sebelum dilarung, masyarakat terlebih
dahulu berdoa bersama.
"Kita berdoanya kepada Tuhan Yang
Maha Kuasa. Bukan kepada yang lain," ujarnya. Selanjutnya, usai
didoakan ubo rampe tersebut dikirab menuju bibir pantai yang berjarak sekitar
200 meter. Ubo rampe kemudian dimasukkan dalam dua perahu untuk dilarung ke
tengah laut selatan.
Ketua panitia Sedekah laut Pantai
Baru, Yanto mengatakan, dalam upacara sedekah laut tersebut diikuti oleh
masyarakat pesisir yakni para nelayan, petani dan pegiat Pokdarwis.
“Tujuannya adalah bersyukur atas rezeki yang
selama ini kita terima dari yang Kuasa. Selain itu juga kita bersyukur kawasan
ini tidak terkena bencana abrasi yang banyak terjadi di pantai lainnya,”
ujarnya.
Namun,
beberapa budaya seperti ini mulai tergerus modernisasi, globalisasi, rasionalisasi arus
pemahaman agama yang saklek. Dan Terus dibabat dengan tidak ada tuntunannya.
Seperti
pada Jumat, 12 Oktober 2018 sekitar pukul 23.30 WIB atau jelang
gelaran sedekah laut di bantul yogya batal di gelar lantaran adanya intimidasi kelompok
masyarakat tertentu dan adanya perusakan properti.
Cerita
bermula saat puluhan orang bercadar mengendarai dua unit mobil, satu mobil
ambulans, dan sejumlah motor mendatangi Pantai Baru.
Sambil
berteriak takbir, massa bercadar itu merusak penjor (hiasan dari pohon pisang),
memecah kaca meja, dan mengobrak-abrik kursi yang disiapkan untuk tamu.
Massa
bercadar itu berada di lokasi sekitar 15 menit dan meninggalkan spanduk yang
terpasang dekat lokasi sedekah laut bertuliskan "Menolak Semua
Kesirikan Berbau Budaya Sedekah Laut atau Selainnya". Di spanduk juga
tercantum Aliansi PETA.
Karena takut terjadi hal yang tidak
diinginkan, warga memutuskan untuk membatalkan sedekah laut itu, terutama untuk
labuhan dan arak-arakan atau kirab budaya.
Gus Miftah tidak setuju dengan tindakan anarkis
tersebut
KH. Miftah Maulana Habiburrahman
alias Gus Miftah dalam akun instagram @gusmiftah mengecam oknum yang melakukan
perusakan properti sedekah laut Pisungsung Jaladri. Dia menilai orang-orang
yang melakukan perusakan itu tidak memahami kegiatan budaya daerah setempat.
"Banyak orang yang gagal paham
atau salah paham atau pahamnya salah. Menurut saya selama labuhan itu tujuannya
nguri-nguri budaya, saya enggak ada masalah. Tetapi kalau itu sifatnya
ubudiyah, itu jelas salah," katanya, Sabtu (13/10) malam.
Gus Miftah tidak membenarkan
perusakan itu karena, menurutnya, Islam tidak mengajarkan tindakan anarkis.
Maka dari itu, perlu ada edukasi kepada masyarakat bahwa kegiatan tersebut
adalah bagian dari pelestarian budaya.
Kadisbud
Bantul mengatakan sedekah laut merupakan bagian dari objek wisata
Pihak pemerintah setempat berupaya melakukan pelestarian
budaya dengan menghidupkan kembali tradisi yang sudah mulai ditinggakan.
Dengan adanya dana stimulan dari pemerintah melalui dana
keistimewaan, sedekah laut Pisungsung Jaladri menjadi salah satu event budaya
untuk menarik wisatawan.
"Sedekah laut itu hanya sekadar event budaya.
Bukan sebuah ritual khusus," kata Kepala Dinas Kebudayaan Bantul,
Sunarto, Minggu (14/10).
"Sedekah laut itu menjadi daya tarik tersendiri
sebuah objek wisata," tambahnya.
Ketua Komisi Hukum MUI Pusat M. Baharun mengatakan, tradisi
sesajen dapat dimodifikasi dengan menyedekahkan fakir miskin di pesisir laut
yang membutuhkan dengan isi sesajen.
“Tradisi kan bukan keyakinan atau rukun agama, bisa
dimodifikasi sesuai anutan dan akidah keimanan dalam agama, supaya tidak
bertentangan. Cara Wali Songo mengompromikan tradisi sehingga dapat kompatibel
dengan agama sangat bagus,” ungkap Baharun.
Makna simbolik tradisi sedekah
bumi:
Toleransi
Dalam waktu dan
tempat yang sama dalam serangkaian tradisi sedekah bumi di hadiri oleh antar
umat beragama, suku, wisatawan lokal maupun asing dapat terlibat langsung
didalamnya tanpa membeda-bedakan.
Kebersamaan
Kegiatan tersebut dihadiri oleh, Tokoh Masyarakat, Tokoh agama dan segenap
unsur lapisan Masyarakat.Mereka berbaur dengan warga dalam kebersamaan
memeriahkan serangkaian tradisi Sedekah Bumi
Menumbuhkan kesadaran Pelestarian alam
Bagi masyarakat Jawa khususnya para petani, tradisi sedekah bumi bukan
sekadar ritual yang sifatnya tahunan. Selain mengajarkan rasa syukur, tradisi
sedekah bumi juga mengajarkan bahwa manusia harus hidup harmonis dengan alam
dengan menjaga dan melestarikan alam
Identitas budaya
Nilai-nilai budaya daerah yang dapat menyumbang terbentuknya jatidiri
bangsa atau identitas bangsa Indonesia dalam wacana globalisasi
hubungan-hubungan antarbangsa-bangsa di dunia.
Daya tarik wisatawan
Disamping menjaga budaya setempat dengan menjaga yang asli dan tradisonal,
tetapi dengan semangat kontemporer dapat menjangkau dan diapresiasi oleh lebih
banyak masyakarat. Sehingga mengundang daya tarik wisatawan lokal maupun asing.
Pendorong ekonomi lokal
Fenomena pelestarian budaya lokal di pedesaan dapat menjadi alat untuk
meningkatkan dan pengembangan ekonomi masyarakat desa.
Keharmonisan
Dalam pelaksanaan sedekah bumi banyak melibatkan beragam lapisan masyarakat
dari strata yang bermacam-macam berkumpul menjadi satu dalam tradisi sedekah
bumi.
Agama dan budaya
KRT Rintaiswara, Abdi Dalem
Kawedanan Hageng Punakawan (KHP) Widyabudaya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
saat ditemui wartawan usai mengisi sarasehan budaya dengan tema Hajad Dalem
Labuhan di Balai Desa Pleret, Bantul, DIY, Minggu (14/10).
Menurutnya, semestinya agama dan
budaya bisa digunakan masyarakat. Misalnya, dalam adab makan dan minum. Dari
sisi agama, setiap orang wajib berdoa sebelum makan dan minum. Sementara, dari
sisi budaya mengajarkan bagaimana sikap seseorang saat makan minum seperti cara
duduk.
"Ya makan harus yang berbudaya,
makan pelan-pelan tidak sambil ngomong, duduk yang sopan. Itu adalah perpaduan
agama dan budaya. Mestinya idealnya orang beragama ya berbudaya. Kehidupan kita
gersang tanpa itu. Contoh pernikahan kan cuma pengantin, wali, dan saksi
menurut agama sudah sah. Tapi kalau ada tarub, manten dihias, sungkeman itu kan
istilahnya budaya. Tidak dilarang," bebernya.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa
kebudayaan merupakan pilar bangsa. Keberagaman juga tetap harus senantiasa
dihormati.
"lah ya itu padahal salah satu
tiang pilar kan kebudayaan. Kawulo Ngayogyakarta itu harus menjadi kawula yang
berbudaya. Sopan santun, unggah-ungguh, toto
kromo (tata krama). Terserah mau (perusakan properti Sedekah Bumi)
dibilang mencinderai atau apa, tapi itu menyimpang dari pilar kebudayaan,"
tegasnya.
"Kebebasan mereka yang mengadakan
(Sedekah Bumi) dijamin oleh negara semestinya. Main hakim sendiri itu tidak
menjaga toleransi," pungkasnya.
Posting Komentar