Koleksi Terbaru Kami

Nilai-nilai dibalik Tradisi Sedekah Bumi, bukan lagi perkara Ketauhidan


Indonesia yang terkenal di kancah dunia dengan luasnya wilayah serta beragam suku, terkandung segudang kekayaan budaya serta kekayaan alam didalamnya. Salah satu yang menjadi pusat perhatian yaitu suku jawa yang mempunyai beragam kebudayaan, salah satu contoh dari kekayaan budaya jawa adalah sedekah bumi.
sedekah bumi merupakan kebudayaan yang awal mula merupakan berwujudan nilai-nilai Animisme dan Dinamisme yang mendapat pengaruh dari ajaran Hindu-Buddha, sesuai dengan kepercayaan pendahulu masyarakat Jawa. Sebenarnya kepercayaan ini telah dikenal oleh bangsa Indonesia sebelum Hindu-Budha masuk. lalu terjadi akultirasi setelah hindu-budha masuk.
Nilai-nilai animisme dan dinamisme yang tampak dari sedekah bumi antara lain berupa pemotongan hewan yang ditujukan sebagai persembahan kepada roh halus, jika tidak dilaksanakan, penduduk khawatir akan terkena murka roh halus berupa bencana alam, atau gagal panen warga setempat.
Namun seiring masuk dan berkembangnya Ajaran Islam ke bumi jawa dan nusantara oleh wali sembilan dengan konsep akulturasi budaya, yakni tanpa menghapus budaya atau istiadat yang berkembang namun mengubah nilai-nilai yang terkandung di dalamnya agar sesuai dengan syariat Islam, sehingga terjadi perubahan paradigma pelaku budaya terhadap tradisi dan adat istiadat masyarakat yang berkembang.
Pelaksanaan sedekah bumi bukan lagi sebagai ritual tolak bala atau persembahan kepada roh halus, melainkan sebagai tradisi leluhur yang harus di jalankan sebagai warisan yang menjadi kekayaan budaya masyarakat. Salah satu yang mengalami pergeseran paradigma itu adalah sedekah bumi laut Pisungsung Jaladri di Pantai Baru, Kecamatan Sanden, Bantul Yogyakarta.
Sedekah bumi merupakan Sebuah prosesi upacara adat warga pesisir sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada Yang Maha Kuasa atas rahmat yang telah diberikan selama ini. Hasil laut yang melimpah merupakan pemberian Yang Maha Kuasa dan dianggap berkah tersendiri oleh masyarakat sepanjang pantai selatan.

Hampir di setiap penggal pantai, masyarakatnya melakukan penyelenggaraan tradisi sedekah laut. Namun intinya sama yaitu bersyukur dengan melarung (membuang) beberapa piranti upacara adat sedekah laut tersebut.

Sesepuh pantai selatan, Kecamatan Sanden, Samiyo mengatakan warga pesisir melaksanakan sedekah laut sebagai wujud rasa syukur atas keselamatan dan hasil bumi yang mencukupi. Biasanya, pelaksanaannya memang paling banyak di bulan Suro, namun ada juga yang melaksanakan di bulan lain.

"Tradisi ini sebenarnya sudah turun-temurun. Tidak banyak yang tahu mungkin, karena tidak banyak terekspos. Namun sejak pantai selatan banyak dibuka untuk pariwisata, maka justru banyak dikemas dalam bentuk event untuk menarik wisatawan," tutur laki-laki yang juga menjabat sebagai penasehat Pokdarwis tersebut, Mingu (14/10/2018).

Dalam sedekah laut tersebut memang ada sebagian warga yang melarung kepala, kulit, dan kaki kambing kendit (kambing jantan hitam yang bagian perut terdapat garis putih melintang) ke laut selatan. Selain itu, ada juga sejumlah ubo rampe seperti bunga tujuh warna, pisang, dan nasi tumpeng. Biasanya, sebelum dilarung, masyarakat terlebih dahulu berdoa bersama.

"Kita berdoanya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Bukan kepada yang lain," ujarnya. Selanjutnya, usai didoakan ubo rampe tersebut dikirab menuju bibir pantai yang berjarak sekitar 200 meter. Ubo rampe kemudian dimasukkan dalam dua perahu untuk dilarung ke tengah laut selatan.

Ketua panitia Sedekah laut Pantai Baru, Yanto mengatakan, dalam upacara sedekah laut tersebut diikuti oleh masyarakat pesisir yakni para nelayan, petani dan pegiat Pokdarwis.
Tujuannya adalah bersyukur atas rezeki yang selama ini kita terima dari yang Kuasa. Selain itu juga kita bersyukur kawasan ini tidak terkena bencana abrasi yang banyak terjadi di pantai lainnya,” ujarnya.

Namun, beberapa budaya seperti ini mulai tergerus modernisasi, globalisasi, rasionalisasi arus pemahaman agama yang saklek. Dan Terus dibabat dengan tidak ada tuntunannya.

Seperti pada Jumat, 12 Oktober 2018 sekitar pukul 23.30 WIB atau jelang gelaran sedekah laut di bantul yogya batal di gelar lantaran adanya intimidasi kelompok masyarakat tertentu dan adanya perusakan properti.

Cerita bermula saat puluhan orang bercadar mengendarai dua unit mobil, satu mobil ambulans, dan sejumlah motor mendatangi Pantai Baru.

Sambil berteriak takbir, massa bercadar itu merusak penjor (hiasan dari pohon pisang), memecah kaca meja, dan mengobrak-abrik kursi yang disiapkan untuk tamu.

Massa bercadar itu berada di lokasi sekitar 15 menit dan meninggalkan spanduk yang terpasang dekat lokasi sedekah laut bertuliskan "Menolak Semua Kesirikan Berbau Budaya Sedekah Laut atau Selainnya". Di spanduk juga tercantum Aliansi PETA.

Karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan, warga memutuskan untuk membatalkan sedekah laut itu, terutama untuk labuhan dan arak-arakan atau kirab budaya.

Gus Miftah tidak setuju dengan tindakan anarkis tersebut

KH. Miftah Maulana Habiburrahman alias Gus Miftah dalam akun instagram @gusmiftah mengecam oknum yang melakukan perusakan properti sedekah laut Pisungsung Jaladri. Dia menilai orang-orang yang melakukan perusakan itu tidak memahami kegiatan budaya daerah setempat.

"Banyak orang yang gagal paham atau salah paham atau pahamnya salah. Menurut saya selama labuhan itu tujuannya nguri-nguri budaya, saya enggak ada masalah. Tetapi kalau itu sifatnya ubudiyah, itu jelas salah," katanya, Sabtu (13/10) malam.

Gus Miftah tidak membenarkan perusakan itu karena, menurutnya, Islam tidak mengajarkan tindakan anarkis. Maka dari itu, perlu ada edukasi kepada masyarakat bahwa kegiatan tersebut adalah bagian dari pelestarian budaya.

Kadisbud Bantul mengatakan sedekah laut merupakan bagian dari objek wisata

Pihak pemerintah setempat berupaya melakukan pelestarian budaya dengan menghidupkan kembali tradisi yang sudah mulai ditinggakan.
Dengan adanya dana stimulan dari pemerintah melalui dana keistimewaan, sedekah laut Pisungsung Jaladri menjadi salah satu event budaya untuk menarik wisatawan.
"Sedekah laut itu hanya sekadar event budaya. Bukan sebuah ritual khusus," kata Kepala Dinas Kebudayaan Bantul, Sunarto, Minggu (14/10).
"Sedekah laut itu menjadi daya tarik tersendiri sebuah objek wisata," tambahnya.
Ketua Komisi Hukum MUI Pusat M. Baharun mengatakan, tradisi sesajen dapat dimodifikasi dengan menyedekahkan fakir miskin di pesisir laut yang membutuhkan dengan isi sesajen.
Tradisi kan bukan keyakinan atau rukun agama, bisa dimodifikasi sesuai anutan dan akidah keimanan dalam agama, supaya tidak bertentangan. Cara Wali Songo mengompromikan tradisi sehingga dapat kompatibel dengan agama sangat bagus,” ungkap Baharun.
Makna simbolik tradisi sedekah bumi:
Toleransi

Dalam waktu dan tempat yang sama dalam serangkaian tradisi sedekah bumi di hadiri oleh antar umat beragama, suku, wisatawan lokal maupun asing dapat terlibat langsung didalamnya tanpa membeda-bedakan.

Kebersamaan

Kegiatan tersebut dihadiri oleh, Tokoh Masyarakat, Tokoh agama dan segenap unsur lapisan Masyarakat.Mereka berbaur dengan warga dalam kebersamaan memeriahkan serangkaian tradisi Sedekah Bumi

Menumbuhkan kesadaran Pelestarian alam

Bagi masyarakat Jawa khususnya para petani, tradisi sedekah bumi bukan sekadar ritual yang sifatnya tahunan. Selain mengajarkan rasa syukur, tradisi sedekah bumi juga mengajarkan bahwa manusia harus hidup harmonis dengan alam dengan menjaga dan melestarikan alam

Identitas budaya

Nilai-nilai budaya daerah yang dapat menyumbang terbentuknya jatidiri bangsa atau identitas bangsa Indonesia dalam wacana globalisasi hubungan-hubungan antarbangsa-bangsa di dunia.
Daya tarik wisatawan

Disamping menjaga budaya setempat dengan menjaga yang asli dan tradisonal, tetapi dengan semangat kontemporer dapat menjangkau dan diapresiasi oleh lebih banyak masyakarat. Sehingga mengundang daya tarik wisatawan lokal maupun asing.

Pendorong ekonomi lokal

Fenomena pelestarian budaya lokal di pedesaan dapat menjadi alat untuk meningkatkan dan pengembangan ekonomi masyarakat desa.

Keharmonisan

Dalam pelaksanaan sedekah bumi banyak melibatkan beragam lapisan masyarakat dari strata yang bermacam-macam berkumpul menjadi satu dalam tradisi sedekah bumi.

Agama dan budaya

KRT Rintaiswara, Abdi Dalem Kawedanan Hageng Punakawan (KHP) Widyabudaya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat saat ditemui wartawan usai mengisi sarasehan budaya dengan tema Hajad Dalem Labuhan di Balai Desa Pleret, Bantul, DIY, Minggu (14/10).

Menurutnya, semestinya agama dan budaya bisa digunakan masyarakat. Misalnya, dalam adab makan dan minum. Dari sisi agama, setiap orang wajib berdoa sebelum makan dan minum. Sementara, dari sisi budaya mengajarkan bagaimana sikap seseorang saat makan minum seperti cara duduk.

"Ya makan harus yang berbudaya, makan pelan-pelan tidak sambil ngomong, duduk yang sopan. Itu adalah perpaduan agama dan budaya. Mestinya idealnya orang beragama ya berbudaya. Kehidupan kita gersang tanpa itu. Contoh pernikahan kan cuma pengantin, wali, dan saksi menurut agama sudah sah. Tapi kalau ada tarub, manten dihias, sungkeman itu kan istilahnya budaya. Tidak dilarang," bebernya.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa kebudayaan merupakan pilar bangsa. Keberagaman juga tetap harus senantiasa dihormati.

"lah ya itu padahal salah satu tiang pilar kan kebudayaan. Kawulo Ngayogyakarta itu harus menjadi kawula yang berbudaya. Sopan santun, unggah-ungguh, toto kromo (tata krama). Terserah mau (perusakan properti Sedekah Bumi) dibilang mencinderai atau apa, tapi itu menyimpang dari pilar kebudayaan," tegasnya.

"Kebebasan mereka yang mengadakan (Sedekah Bumi) dijamin oleh negara semestinya. Main hakim sendiri itu tidak menjaga toleransi," pungkasnya.


Lihat Detail

Malik bin Dinar dan masa lalunya

Pagi itu, kaum muslimin berduyun-duyun menuju Masjid Kuffah. Dalam waktu yang tidak lama, Masjid Kufah telah penuh sesak dipadati kaum muslimin hendak mendengarkan ceramah dari seorang ulama besar asal Irak sekaligus imam besar masjid kufah, Syaikh Malik bin Dinar.

Tidak seperti biasanya, kali ini, sang guru duduk di depan jamaah dengan wajah tertunduk. Butiran air mata tampak menetes dari sudut kedua matanya. Suasana senyap. Jamaah hening tak mengerti apa yang terjadi dengan sufi kenamaan itu.

Kemudian, syaikh Malik bin Dinar mengangkat kepalanya. Suasana masih senyap. Tidak lama berselang, ia memanjatkan puja dan puji syukur ke hadirat Allah SWT dan shalawat kepada Rasulullah saw.

“kaum muslimin sekalian, sebenarnya aku tidaklah sebaik yang kalian sangka. Masa mudaku sangat kelam. Kalaulah bukan karena hidayah dan rahmat Allah, aku tidak mungkin berada di masjid ini”  tutur malik bin dinar membuka ceramahnya.

“sewaktu muda aku adalah seorang polisi. Aku ditugaskan disebuah provinsi yang memiliki pasar sangat ramai. Semestinya, aku menjaga keamanan dan ketertiban di pasar itu.

Akan tetapi, aku justru melakukan hal sebaliknya. Aku memeras para pedagang di sana. Banyak orang yang kusakiti. Boleh dikatakan, hampir setiap orang di pasar itu pernah saya zalimi. Bahkan, tidak sedikit jiwa yang melayang akibat kejahatanku.

Suatu hari, aku melihat seorang penjual yang tengah beradu mulut dengan seorang pembeli. Aku menghampirinya dan menanyakan apa duduk perkaranya.
Rupanya, si pembeli ingin membeli barang si penjual dengan harga rendah. Sementara, si penjual tidak mau dibeli dengan harga tersebut.

Aku mengayunkan tangan hendak memukul si pembeli. Namun tiba-tiba seorang kakek melarangku melakukannya. Entah kenapa, aku menuruti kata-kata kakek itu. Seketika itu aku menghentikan ayunan tinjuku.

Kakek itu tampak sederhana, namun wajahnya memacarkan cahaya keimanan dan keluhuran akhlak. Si kakek menasihati si penjual da si pembeli hingga akhirnya mereka berdamai.

“tuan, aku datang dari jauh dan hendak pulang ke rumah. Aku ingin membelikan buah tangan untuk anak-anak perempuanku. Akan tetapi, aku tidak mempunyai uang. Maukah tuan membelikan buah tangan untuk anak-anakku?” pinta kakek itu kepadaku.

Entah kenapa, aku kembali menuruti permintaan kakek itu. Aku membelikan buah tangan untuk anak-anak perempuannya

“ini,kek. Berikan sebagai buah tangan untuk anak-anak kakek. Sampaikan pada anak-anak kakek, doakan agar rahmat Allah tercurah kepadaku,” ujarku.

Hari berganti hari. Namun, peristiwa pertemuan dengan si kakek itu begitu membekas di dalam hatiku. Suatu hari, aku melihat seorang budak perempuan yang cantik di pasar. Hatiku langsung tertarik. Kemudian aku menikahi perempuan itu.

Sejak menikah, hidupku terasa begitu indah. Aku seolah-olah lupa dengan segala kejahatanku. Terlebih, setelah Allah mengaruniakan seorang anak perempuan yang jelita kepada kami. 

Kebahagiaan kami semakin bertambah. Namun, cobaan datang belum lama aku menikmati kebahagiaan memiliki anak, istriku meninggal dunia.

Sejak saat itu, seluruh perhatianku aku curahkan kepada putriku. Aku merawat da membesarkan putriku dengan penuh perhatian.

Tidak terasa, putriku sudah berumur dua tahun ia tumbuh menjadi anak yang sehat dan lucu. Namun, suatu hari saat aku pulang bekerja, aku mendapati putriku mengerang kasakitan. Aku langsung mencarikan obat dan memanggil dokter.

Namun, putriku belum juga membaik. Malah, kondisinya semakin menurun. Akhirnya, putriku pun meninggal dunia.

Aku sangat terpukul dengan kematian putriku. Aku tak kuasa menahan sedih yang menusuk hati. Air mataku pun tertumpah. Aku ciumi anakku sebelum kukuburkan dengan tanganku sendiri.

Sejak saat  itu, hidupku kembali kacau. Aku mabuk-mabukan, memeras pedagang, dan bersikap kasar kepada siapa saja yang kutemui.

Suatu hati, aku melihat seorang perempuan dan anak kecil yang sedang membawa makanan. Aku merampas makanannya. Aku tidak peduli dengan teriakan perempuan itu. Bahkan, tangisan anaknya yang mengiba pun tidak kuhiraukan.

Malamnya, aku langsung pulang kerumah. Aku tertidur pulas dan bermimpi.

Dalam mimpi itu seolah kiamat sudah terjadi. Aku berada di suatu tempat yang asing.
Tiba-tiba, aku mendengar suara bergemuruh. Aku menoleh ke asal suara. Ternyata ia seekor ular besar. Ular itu bergerak ke arahku dan hendak memangsaku. Aku langsung lari menyelamatkan diri. 

Saat itu, aku melihat seorang lelaki tua. Aku meminta tolong kepadanya. Namun, lelaki tua itu tak berdaya. Ia hanya bisa mendoakan semoga Allah menyelamatkanku. Ia tidak dapat berbuat banyak karena kelemahannya. Ia menyarankanku untuk lari lebih cepat lagi.

Aku segera berlari lebih cepat dari sebelumnya. Aku naik ke tempat yang sangat tinggi di samping neraka.

Saking takutnya, tubuhku gemetar dan hampir saja terjatuh ke dalamnya. Aku tak tahu mau lari kemana lagi. Aku pun memutuskan kembali ke tempat lelaki tua itu berada, sementara ular tersebut tetap mengejar dari belakang.

Aku kembali meminta bantuannya. Tapi ia tetap tidak berdaya untuk membantu.

“pergilah ke gunung itu, disana banyak simpanan kaum muslimin. Semoga bisa menolongmu,” ujar lelaku tua itu.

Aku pandangi gunung yang ditunjuk lelaki tua itu. Luar biasa. Gunung itu bercahaya dan berkilauan seperti permata. Pada setiap tempat, terdapat gorden yang indah. Daun pintunya terbuat dari emas yang memancarkan warna keemasan. Daun pintu itu ditutup gorden dari sutera halus yang makin memperindah setiap mata yang melihatnya.

Aku segera menuju ke gunung itu, sementara ular tetap mengejar di belakangku.

Ketika aku sudah mendekati tempat itu, terdengar suara malaikat,

“angkatlah gorden-gorden itu dan bukalah pintunya!”

Begitu masuk, aku melihat anak-anak laksana purnama yang bersinar. Aku bahagia bercampur kaget karena putriku yang telah meninggal ternyata ada disana.

Ketika ular itu makin mendekat, sebagian anak-anak itu berkata pada sebagian yang lain,

“cepat naiklah kalian, ular itu sudah datang.”

Anak-anak itu naik satu per satu, sementara aku masih termanug memerhatikan mereka. Tiba-tiba putriku berkata,

“ayah, kemarilah, cepat naik!”

Percikan cahaya keluar dari telapak tangan putriku. Lalu, ia ulurkan tangan kirinya dan menggenggam tangan kananku, sementara tangan kanannya ia arahkan ke ular itu. Seketika ular itu lari tunggang langgang.

Aku dekap putriku erat-erat. Aku ciumi dengan penuh linangan air mata seolah aku takut kehilangan dia untuk kedua kalinya. Aku angkat tangannya untuk memegang janggutku dan kami saling bercanda sabil aku pandangi terus-menerus kadua matanya yang indah itu.

Lalu ia berkata,

“wahai ayahku, tidakkah ayah mendengar firman Allah dalam surat al-hadid ayat 16,"

“belum tibakah waktunya bagi orang-orang beriman untuk secara khusuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka), dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang, sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak diantara mereka menjadi orang-orang fasik.”
Begitu mendengar ayat itu, aku langsung menangis tersedu-sedu.

“wahai buah hatiku, kau mengetahui ayat Al-Qur’an?”

Ia menjawab,

“aku mengetahuinya dari Ayah.”

“anakku, jelaskanlah apa sesungguhnya maksud ular yang hendak mencelakakan ayah!”

“itu adalah gambaran amal jahat ayah yang begitu kuat ingin menyeret ayah ke neraka jahim.”

“kalau lelaki tua tak berdaya itu, apa maksudnya?”

“itulah amal saleh ayah yang sangat jarang ayah perkokoh, sehingga tidak dapat menyelamatkan ayah karena lemah.”

“lantas, apa yang kalian kerjakan di gunung ini?”

“putra-putri kaum muslimin yang meninggal ketika masih kecil semuanya tinggal disini menunggu datangnya hari kiamat. Aku menunggu ayah datang, dan dengan izin Allah, aku memberi syafaat bagi ayah.”

Tiba-tiba aku terbangun dari mimpi itu dengan rasa takut yang luar biasa. Peluh bercucuran membasahi tubuh. Kemudian, aku mengambil tongkat dan kupecahkan botol-botol minuman keras yang berjejer tidak jauh dari tempat tidur.

Sejak saat itu, aku sungguh-sungguh bertaubat dan memohon ampun kepada Allah atas segala dosa yang telah kuperbuat. Aku bertekad mengarahkan semua gerak dan langkah hidup hanya untuk beribadah kepadaNya.

Namun demikian, harus kuakui bahwa sesungguhnya ibadah yang kulakukan pada awal tobat, itu karena takut akan ular yang hadir dalam mimpiku, belum betul-betul ikhlas mengharapkan keridhaanNya.

Beberapa hari setelah aku bertaubat, kota kami dilanda kekeringan. Kami diuji oleh Allah dengan musim kemarau yang membakar. Hujan seolah tak mau turun, sehingga semua tanaman kering. Banyak hewan ternak yang mati kehausan. Kelaparan pun merajalela. Air sangat sulit didapatkan.

Ketika aku sedang duduk berdoa di sebuah masjid, tiba-tiba masuk seorang laki-laki berkulit hitam. Betisnya kurus, perutnya buncit.

Ia shalat dua rakaat kemudian berdoa,

“ya Allah, aku bersumpah dengan kecintaanMu terhadapku, tolong turunkanlah hujan pada kami saat ini juga.”

Tidak lama setelah laki-laki itu berdoa, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya sehingga orang-orang pun keluar menyambutnya dengan gembira.

Sebelum orang itu keluar, aku mendekatinya.

“tuan, aku mendengar tuan tadi berkata, “aku bersumpah dengan kecintaaMu terhadapku,” darimana tuan mengetahui kalau Dia mencintai tuan?”

Laki-laki itu menjawab,

“wahai tuan, bagaimanakah keadaanku jika Allah tidak memberikan kecintaanNya kepadaku?  Tidakkah tuan mengetahui bahwa Allah Maha luas ampunanNya dan sangat besar sayang-Nya terhadap hamba-hambaNya?”

Kemudian, laki-laki itu berlalu meninggalkanku yang masih kebingungan. Sejak hari itu, aku bertekad untuk beribadah kepada Allah bukan karena takut ular, melainkan betul-betul karena mengharapkan keridhaanNya.”

Usai bercerita, Malik bin dinar terdiam beberapa saat.

Kemudian, ia melanjutkan pembicaraanya,

“hadirin sekalian! Ketahuilah, sesungguhnya Allah maha penyayang, maka bergembiralah dengan kasih sayangNya. Sungguh, Allah sangat mencintai kalian yang seandainya kalian mengetahui begitu besar cintaNya, kalian tidak akan pernah berbuat maksiat.

Apakah kalian mencintai Allah? Kalau demikian, ketahuilah bahwa tanda-tanda kalian mencintai Allah adalah kalian tidak berhenti berzikir. Karena sesungguhnya seorang pencinta akan sesering mungkin menyebut nama kekasihnya yang dicintainya.


Bertobatlah kalian, wahai hamba Allah, mumpung kalian masih diberi napas dan kesempatan. Karena, sesungguhnya Allah akan menerima setiap tobat yang keluar dari mulut dan hati yang tulus. Marilah kita jadikan hari ini sebaga hari pertobatan kita,” tutur Malik bin Dinar mengakhiri tausihnya.
Lihat Detail

Ibrahim Bin Adham dan seorang pemabuk

Suatu senja, ibrahim bin adham berjalan di sebuah pasar. Tiba-tiba, langkahnya terhenti oleh seorang pemuda yang menubruk tubuhnya dari belakang.

Ibrahim membalikkan tubuhnya. Tubuh pemuda itu limbung dan hampir saja terjerembab ke tanah. Beruntung ibrahim sigap menyambutnya. Dari aroma mulutnya, tercium bau minuman keras. 

Rupanya, pemuda itu dalam kondisi mabuk berat. Mulutnya meracau tidak karuan. Sekilas, pemuda itu menatap ibrahim bin adham. Matanya merah dan sayu.

“antar aku pulang,” katanya.

Ibrahim bin Adham merangkul tangan pemuda itu ke pundaknya, lalu berjalan.

Anehnya, ibrahim tidak bertanya kemana ia harus mengantarkan pemuda itu pulang. Ia terus berjalan sambil membopong pemuda tersebut.

Si pemuda menurut saja kemana pun ibrahim melangkah. Kaki ibrahim lalu berhenti di sebuah tanah lapang. Di sana terdapat batu-batu nisan. Ternyata ibrahim bin adham membawa pemuda itu ke area makam.

"Bangun lah, kita sudah sampai di rumahmu?” ujar ibrahim bin adham sambil menepuk-nepuk bahu pemuda itu.

Si pemuda mencoba membuka matanya yang terasa berat. Perlahan, matanya dapat melihat keadaan sekeliling. Matanya menyapu pemandangan sekitar tempatnya berdiri.ia mengumpulkan segenap kesadarannya yang tersisa. 

Tiba-tiba raut mukanya memerah dan matanya menyalak tajam.

“apa maksudmu membawaku ke sini?" Gertak pemuda itu.

“kau memintaku mengantarkanmu pulang. Inilah rumahmu yang sesungguhnya. Rumahmu di dunia ini hanya sementara. Akhiratlah rumah yang sesungguhnya,” jawab ibrahim bin adham tenang.

Pemuda itu tersentak. Kata-kata Ibrahim Bin Adham seperti bilah pedang yang menusuk jantungnya dan membangunkan kesadarannya.

Pelan-pelan, kata-kata itu berubah menjadi secercah cahaya yang menelusup kalbunya. Pemuda itu tersedar. Ia telah terlena oleh pesona dunia. Padahal, dunia bukan rumah sesungguhnya. Akhiratlah rumah sebenarnya.


Pemuda itu pun bertobat dan menggunakan sisa waktu hidupnya untuk beribadah dan beramal saleh.
Lihat Detail

Hidayah melalui seekor burung

Seorang bandit tengah duduk berteduh di bawah pohon kurma. Ia sedang menunggu mangsanya. Al-kurdi namanya.

Ia dikenal sebagai bandit yang suka merampas hak orang lain, pemabuk, penjudi, dan pezina. Bahkan, ia tak sungkan membunuh nyawa korbannya jika melawan dan tidak mau menyerahkan harta bendanya.

Perhatiannya terusik oleh seekor burung yang hilir mudik antara satu pohon kurma satu ke pohon kurma yang lainnya. Karena panasaran  dengan apa yag dilakukan oleh burung itu, al-kurdi memanjat pohon kurma tersebut.

Tahulah ia kenapa burung itu hilir mudik dari satu pohon kurma ke pohon kurma yang lain.

Ternyata, ada seekor ular buta di sebuah pohon kurma. Burung itu mematuk kurma, kemudian memberukannya kepada ular itu dengan cara menyuapinya.

Al-kurdi memperhatikan apa yang dilakukan oleh burung itu.

Namun, tiba-tiba tubuhnya bergetar dan ia terjatuh. Sepertinya, telah terjadi sesuatu pada dirinya. Rona mukanya yang biasanya garang berubah teduh.

Perlahan, butiran bening mengalir dari kelopak matanya. Rupanya, ia tersadar atas dosa dan kesalahannya selama ini.

“burung saja memiliki kasih sayang kepada binatang lainnya. Padahal, ia tidak memiliki akal dan hati. Betapa hinanya aku ini. Aku dikaruniai akal dan hati, tetapi aku malh menjadi manusia zalim,” gumam Al-kurdi.


Sejak saat itu al-kurdi berubah seratus delapan puluh derajat. Ia bertaubat kepada Allah. Ia menjadi taat beribadah kepada Alla. Ia juga banyak berbuat amal saleh sebagai penebus dosa-dosanya di masa lalu.
Lihat Detail

Tobat sebelum terlambat

Dahulu kala, hiduplah seorang laki-laki yang telah membunuh 99 orang. Suatu ketika, ia jenuh dengan kejahatannya dan ingin bertobat.
Kemudian, ia disarankan menemui seorang abid (ahli ibadah), seorang ahli ibadah namun sayang kurang berilmu.

Laki-laki itu bertanya kepada si abid,

“wahai abid, mungkinkah orang yang sudah membunuh 99 jiwa diampuni dosanya?”

“tidak, ia tidak akan diampuni” jawab si abid.

Mendengar jawaban itu, laki-laki tersebut marah dan dibunuhlah si abid, sehingga genap 100 orang yang telah dibunuhnya.

Kemudian, ia meminta kepada orang-orang agar ditunjukan kepada seorang ulama. Ditunjukanlah ia kepada seorang ulama yang paham ilmu agama. Laki-laki itu pun bergegas menuju ulama tersebut untuk menanyakan masalahnya.

Sesampainya di kediaman sang ulama, ia bertanya,

“mungkinkah orang yang sudah membunuh 100 orang diampuni dosanya jika bertobat?”

“tobatmu bisa diterima dan insya Allah dosa-dosamu diampuni. Hanya, kamu harus meninggalkan tempat tinggalmu yang penuh maksiat itu dan pergi kesuatu tempat yang penduduknya taat beribadah kepada Allah. Hidup dan beribadahlah bersama mereka,” terang ulama itu.

Laki-laki itu pun pergi menuju tempat yang dimaksud untuk memperlancar tobatnya. Namun, di tengah perjalana, tiba-tiba ia terjatuh dan meninggal. Lalu, turunlah dua malaikat, yaitu malaikat ramhat dan malaikat azab.

“orang ini bagianku, karena ia telah berniat sepenuh hati untuk bertobat,” kata malaikat rahmat.

“tidak! Orang ini bagianku. Meski ia berniat dengan sepenuh hati untuk bertaubat, namun belum ada kebaikan sedikitpun yang dilakukannya,” bantah malaikat azab.

Ditengah perdebatan itu, turunlah malaikat lain untuk menengahi perdebatan dua malaikat tersebut.

“begini saja, ukur jarak antara tempat tinggalnya dan tempat tujuannya. Seandainya jaraknya masih jauh dari tempat tujuan, ia milik malaikat azab. Namun bila jaraknya sudah dekat ke tempat tujuan, ia milik malaikat ramhat.”

Lalu, diukurlah jarak yang ditempuh oleh laki-laki itu. Ternyata jaraknya lebih dekat sejengkal ke tempat tujuan. Maka, ruh laki-laki itu pun disambut oleh malaikat rahmat.


Kisah ini diriwayatkan oleh imam bukhari dan imam muslim dalam kitabnya, shahih bukhari dan shahih muslim.
Lihat Detail

Dia selalu melihat kita

Thawus adalah seorang Tabi’in yang Wara’ dan Saleh.
Kesalehannya sangat dikenal dikalangan masyarakat. Tak heran, ia kerap dimintai nasihat oleh masyarakat. Banyak orang yang datang meminta nasihat atau menanyakan suatu masalah kepadanya. 

Kabar kesalehan thawus terdengar juga oleh seorang wanita penggoda. Tentu saja wanita itu cantik dan mempesona. Setiap laki-laki yang digodanya pasti takluk dan bertekuk lutut. Mendengar kabar kesalehan thawus, wanita penggoda itu penasaran.

“sekuat apa sih imannya? Apa ia sanggup menahan diri dari godaanku?” pikirnya dalam hati.

Didorong oleh rasa penasaran, wanita itu menguji keimanan thawus. Dia berpikir thawus juga akan takhluk dalam dekapannya.

Maka, pada hari yang sudah ditentukan, wanita penggoda itu bersolek sangat cantik dan menarik. Kemudaian, ia pergi mendatangi rumah thawus. Tanpa rasa curiga, thawus mempersilahkan wanita itu masuk dan menanyakan maksud kedatangannya. Di luar dugaan, wanita itu menggoda dan mengajaknya berzina.

Dengan tenang, thawus menjawab

“hari ini aku sedang sibuk. Kembalilah esok hari. Aku akan menyambutmu.”

Wanita penggoda itu pulang menuju rumahnya dengan perasaan gembira.

“katanya ahli ibadah yang wara’ dan shaleh. Namun, baru digoda begitu saja sudah takluk. Buktinya, dia mengundangku untuk bersenang-senang,” gumam wanita iu dalam hati.

Esok harinya, wanita penggoda itu berdandan lebih cantik dan menarik daripada kemarin. Ia mendatangi rumah tahwus dengan hati yang berbunga-bunga. Ia seperti sudah yakin bahwa thawus telah terpikat oleh kecantikannya.

Tiba dirumah thawus, ia melihatnya sudah bersiap menyambut wanita itu.

“ayo kita pergi ke suatu tempat!” ajak thawus.

“lho, memangnya kita akan pergi ke mana? Kita 'bermain' disini saja.” Ujar wanita itu.

“tenang saja. Aku akan memenuhi keinginanmu, tapi tidak dirumahku. Ayo ikut aku!”

Wanita itu mengiringi thawus dibelakang. Dalam hatinya, ia bertanya-tanya hendak ke mana thawus mengajakna berbuat mesum.

“ah, mungkin dia sudah menyewa tempat yang bagus. Rumahnya memang jelek. Kurang nyaman berbuat mesum di rumah yang jelek itu.” Gumam wanita itu.

Wanita penggoda itu tampak bersemangat mengikuti langkah thawus.

Namun, pikirannya kembali bertanya-tanya ketik ia menyadari jalan yang mereka lalui adalah jalan menuju masjidil haram.

“kemana sebetulnya thawus hendak megajakku?”

Benar saja. Thawus mengajak wanita penggoda itu ke masjidil haram. Bukan hanya diluarnya, ia bahkan mengajak wanita itu masuk ke masjidil haram hingga di depan kakbah. Saat itu orang-orang tengah ramai beribadah kepada Allah.

“kita sudah sampai di tempat yang dituju. Baiklah, sekarang tanggalkan pakaianmu. Kita berzina di sini,” ujar thawus.

“apa? Berzina disini? Kau sudah gila ya!”

“lho, bukankah di rumahku atau di tempat ini, Allah sama-sama melihat perbuatan kita?” ujar thawus.

Wanita itu terhenyak. Seketika hati nuraninya berontak.

“kata-kata thawus benar. Bukankah dimana saja aku berbuat maksiat, Allah mahamelihat dan maha mengetahui? Sekarang, apa kamu berani bermaksiat di dalam rumah Allah?” Wanita itu tersadar. 

Seketika itu juga ia menangis. Terbayang dalam pikirannya betapa banyak maksiat yang telah dilakukannya.
Ia menyakini bahwa tiada tuhan selain Allah. Akan tetapi ia tidak merasa diawasi dan dilihat Allah. Ia dengan asiknya bermaksiat.

Kini, ia menemukan momentum perubahan dan perbaikan diri. Sejak saat itu, wanita tersebut memutuskan untuk bertobat kepada Allah dan menjalani hari-harinya untuk beribadah kepada-Nya.
Lihat Detail

Pesan Kejujuran

“ingat, nak. Pesan ibu, di mana pun dan dalam kondisi apapun, berkatalah jujur.  Jangan pernah berdusta!” pesan sang ibu kepada anaknya yang hendak pergi menuntut ilmu.

Si anak yang masih remaja mendengarkan nasihat ibunya dengan seksama dan menancapkannya ke dalam hati. Ia bertekad melaksanakan pesan ibunya itu.

“baik, bu. Saya akan melaksanakan Pesan dan nasihat ibu” ujar si anak. Kemudian, ia mengecup tangan ibundanya dengan takzim, berpamitan dan mengucapkan salam.

Ada rasa yang berat berpisah dengan ibundanya yang dicintainya.
sejak ayahandanya meninggal, ia sangat dekat dengan ibunya. Ia bersyukur kepada Allah dikaruniai seorang ibu yang lembut, teguh imannya, dan penuh kasih sayang kepada anaknya.

Namun, perasaan itu sebisa mungkin ia kelola. Bagaimanapun, menuntut ilmu adalah perintah Allah yang harus ditunaikan. Remaja itu melangkahkan kaki meninggalkan kampung halamannya untuk menuntut ilmu di Baghdad, Irak.

Sang ibu tak bisa menyembunyikan perasaan harunya saat melepas kepergian putranya. Namun, dalam hatinya ia sangat mendukng niat putranya untuk menuntut ilmu. Ia ingin putranya menjadi orang yang berilmu yang dapat memberikan pencerahan bagi umat.

Sekuntum doa ia lantunkn mengiringi langkah-langkah putranya pergi.

Remaja itu tak lain adalah Abdul Qadir. Kelak, ia tumbuh menjadi seorang Waliyullah yang memberikan pencerahan bagi umat islam. Ia dikenal dengan nama Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani. 
Karya-karyanya hingga kini banyak dibaca dan dipelajari oleh umat islam di seluruh dunia.

Ada satu pelajaran yang bisa kita petik dari perjalanan Abdul Qadir dalam menuntut ilmu.
Abdul Qadir pergi ke Irak bersama rombongan dagang yang akan berniaga ke syam.

Di tengah perjalanan mereka dicegat oleh para perampok. Para perampok itu merampas semua barang dagangan milik para khafilah. Hanya Abdul Qadir yang luput dari perhatian mereka. Mungkin karena berpikir abdul qadir yang masih remaja itu tidak memiliki harta apa-apa selain baju sangat sederhana yang dikenakannya.

Ketika perampok lain tengah mengemasi harta rampokan, salah seorang perampok mendekati Abdul Qadir. Mungkin dia penasaran, mengapa anak remaja itu mengikuti khafilah dagang.

“hai bocah ingusan, ngapain kamu di sini?” tanya perampok itu kasar.

“aku hendak menuntut ilmu ke baghdad” jawab Abdul Qadir

“apa kau punya harta?” tanya peramok itu dengan mimik tidak yakin.

“ya, aku memiliki uang empat puluh dinar,” ujar Abdul Qadir tegas. Sedikitpun tidak ada rasa takut dalam dirinya. Karena, ia yakin Allah senantasa melindunginya. Ia juga ingat pesan ibunya agar selalu berkata jujur.

“empat puluh dinar? Yang benar saja. Aku tidak percaya! Mana mungkin gembel sepertimu punya uang empat puluh dinar?” Perampok itu bimbang. Antara percaya dan idak.

Akhirnya, ia memutuskan  untuk melapor kepada pimpinannya yang tengah bersiap menaiki kudanya setelah mengemasi harta rampokan bersama anak buahnya yang lain.

“hai, anak muda! Kata anak buahku, kau mengaku memiliki uang empat puluh dinar. Apa itu betul? Jangan coba-coba membohongi dan mempermainkan kami! Kau bisa kami bunuh!” gertak kepala perampok.

“aku mengatakan sebenarnya. Anak buahmu saja yang tidak percaya,” ujar Abdul Qadir, tenang. Gertakan kepala perampok sama sekali tidak membuatnya ciut.

“tunjukan uangmu!” ujar kepala perampok memerintah.

Abdul Qadir merogoh saku bagian dalam jubahnya. Tangan kanannya lalu menggenggam sebuah buntelan kain. Ia pun kemudian membukanya.

“ini uangku. Jumlahnya empat puluh dinar,” tegas Abdul Qadir sambil memperhatikan uang miliknya kepada kepala perampok.

Mata kepala perampok itu terbelalak. Antara percaya dan tidak dengan penglihatannya. Kepingan-kepingan uang emar (dinar) menari-nari di depan matanya.

Aneh. Biasanya ia langsung merampas harta milik korbannya. Namun, kali ini kepada perampok itu hanya termangu sekian lama. para anak buahnya pun heran dengan pemimpinnya.

“apa yang terjadi dengan pemimpin kita? Tidak biasanya ia bersikap seperti itu,” ujar seorang anak buah kepada kawannya.

“entahlah, aku juga tidak mengerti. Kita lihat saja dulu,” terang anak buah lainnya.

“mengapa kau tidak berbohong kepada kami dengan berpura-pura tidak memiliki uang? Padahal, jika kau berbuat demikian, kau tidak akan kehilangan uangmu. Kamipun sama sekali tidak menaruh curiga kepadamu. Akan tetapi, kau justru mengatakan sejujurnya dan aku perhatikan kau seperti tidak takut sama sekali berhadapan dengan kami. Padahal, kami sudah terkenal sebagai peramok yang kejam yang tidak sungkan membunuh korban,” tanya kepala perampok panjang lebar.

“ibuku berpesan kepadaku agar aku selalu berkata jujur dimanapun dan dalam kondisi apapun. Karena, kejujuran akan membawa kepada kebaikan dan kebenaran, dan kebenaran akan membawa ke surga. Aku juga tidak takut kepadamu. Karena, memang tidak ada yang perlu ditakuti dari seorang manusia. Hanya Allah yang berhak ditakuti,” terang Abdul Qadir.

Seperti tersengat kelajengking, kepala perampok itu lunglai. Entah apa yang terjadi dengannya. Anak buahnya pun terheran-heran. Mungkin kata-kata Abdul Qadir menghujam sampai ke dasar hatinya. 
Hati nuraninya tersentuh.

Fitrah manusia yang cenderung kepada kebaikan menyala lagi di hati perampok itu. Ya, bagaimanapun hitam dan kelamnya kehidupa seseorang, tentulah masih ada titik putih yang bukan tidak mungkin menjadi jalan hidayah dan menjadi titik balik kehidupan seseorang. Kepala perampok tersebut mengalami hal itu.

“selama ini, aku belum pernah bertemu dengan orang yang begitu berani berhadapan denganku. Kebanyakan orang takut dan gemetar ketika berhadapan denganku. Akan tetap, hari ini, seorang remaja tidak takut sedikitpun denganku. Kau berani berkata jujur kepadaku. Aku sadar, ternyata aku bukan siapa-siapa. Aku ini makhluk lamah yang menganggap diri sendiri hebat. Aku ingin bertobat kepada Allah,” tutur kepala perampok itu.

“alhamdulillah, itu jauh lebihbaik bagimu. Pintu taubat selalu terbuka setiap saat,” ujar abdul qadir.

“hai, anak buahku! Kalian sudah dengar kata-kataku tadi. Aku memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan hina ini. Aku ingin bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Aku tidak akan memaksa kalian. Silahkan kalian pilih dan tentukan jalan masing-masing. Apakah kalian mengikutiku untuk bertaubat atau tetap menjadi perampok?” ujar kepada anak buahnya.

Mereka saling berpandangan dan berkata-kata, akhirnya, salah seorang di antara mereka berkata,

"Sejak awal kami memutuskan untuk mengikuti dan setia kepadamu. Jika tuan memilih bertaubat, kami juga akan bertaubat.”

Sebagai bukti taubat, para mantan perampok itu mengembalikan semua harta milik para kafilah dagang. Tidak ada yang disembunyikan sedikitpun.


Kemudian, mereka mengikuti Abdul Qadir menuju Baghdad untuk menuntut ilmu agama dan memulai kehidupan baru sebagai seorang muslim.
Lihat Detail

Filosofi Batu

Di sebuah pesantren, seorang santri menatap bayangan tubuhnya di bawah sinar rembulan yang redup. Dari guratan wajahnya, tampak ia sedang merasa putus asa.

Maklumlah, meski telah bertahun-tahun menuntut ilmu di pesantren, ia masih saja tidak naik kelas. Tak heran jika teman-temannya menganggap dirinya bodoh.

Terbesit di hatinya untuk pergi dari pesantren. Ia merasa tidak kuat lagi berada di tempat tersebut. Taman surga itu baginya telah berubah menjadi neraka. Ia pun mengemasi barang-barangnya. Ia memutuskan untuk pulang kekampungnya.

Tepat setelah sholat subuh, ia meninggalkan pesantren tanpa pamit kepada gurunya. Kakinya terus melangkah meninggalkan pesantren. Ditengah perjalanan, hujan trun rintik-rintik. Santri itu berteduh di sebuah gubuk. Secara tak sengaja, matanya memandang sebuah batu besar yang berlubang karena terus-menerus tertetesi air hujan.

Santri itu mengamati batu tersebut dengan seksama. Ia seperti mendapat pelajaran berharga.

“batu yang demikian keras bisa berlubang karena tetesan air hujan yang terus-menerus. Jika demikian, kebodohanku ini juga akan musnah jika terus menerus terkena tetesan ilmu. Aku tidak boleh menyerah,” gumam santri itu.

Santri itu tak jadi pulang kampung. Ia memutuskan kembali ke pesantren. Ia semakin giat belajar. Waktunya digunakan secara optimal untuk belajar.

Di kemudian hari, santrin itu menjadi ulama besar, seorang ahli hadits terkemuka dan pengarang kitab fathul bari syarh shahih bukhari yang dipelajari umat islam di dunia sampai sekarang.

Santri itu tak lain adalah ibnu hajar al-asqalani.
Orang-orang memberikan julukan ‘ibnu hajar’ (putra batu) kepadanya karena beliau mengambil pelajaran dari filosofi batu.
Lihat Detail

Tamu Agung Imam Ahmad

Suatu ketika, imam Syafi’i mengabarkan kepada imam ahmad bahwa ia akan berkunjug ke rumahnya.
Sebagai murid, imam Ahmad merasa sangat gembira dikunjungi oleh gurunya, seorang ulama besar yang mempunyai reputasi tinggi didunia islam.
Imam ahmad pun menyampaikan kabar gembira itu kepada putrinya.

“besok kita kedatangan tamu istimewa. Seorang ulama besar yang dikaruniai kecerdasan yang mengagumkan. Akhlaqnya terpuji, keilmuannya diakui oleh dunia islam. Beliau menjadi rujukan para ulama untuk bertanya masalah-masalah fiqih. Karena itu kamu masak yang enak ya!” tutur imam Ahmad kepada putrinya.

“memangnya siapa tamu istimewa itu? Sepertinya ayah sangat membanggakannya,” tanya sang putri penasaran.

“tamu istimewa itu guru ayah, imam syafi’i” terang imam Ahmad.

“imam Syafi’i?”

“ya, imam Syafi’i,” tegas imam Ahmad.

“wah, tepat sekali kalau begitu. Selama ini ayah selalu menceritakan keistimewaan imam syafi’i. aku ingin tau seistimewa apa imam syafi’I itu. Aku akan mengamatinya,” gumam sang putri dalam hatinya.

Esok harinya imam syafi’I sampai dirumah imam ahmad menjelang sore hari. Imam ahmad menyambut imam syafi’I dengan sambutan hangat.
Imam ahmad mengajak gurunya itu berbincang tentang masalah umat di teras rumahnya. Murid dan guru itu larut dalam dialog yang hangat dan penuh keakraban.

Waktu maghrib tiba. Imam syafi’I sholat berjamaah bersama imam ahmad dan putrinya. Usai sholat maghrib masing-masing melakukan do’a, dzikir dan membaca al-quran sambil menunggu waktu isya’.

Ketika waktu isya’ tiba, ketiganya melakukan sholat isya’ berjamaah.
Usai sholat isya’ imam ahmad mengajak imam syafii makan malam.
Putri imam ahmad telah menyediakan hidangan istimewa untuk imam syafii sesuai pesan ayahnya. Imam syafii makan dengan cukup lahap.

Rupanya, putri imam ahmad memperhatikan imam syafii makan tanpa disadari oleh tamunya itu.

“ulama besar apaan? Katanya orang alim, tapi makanya banyak,” gumam sang putri menyaksikan kealiman imam syafii.

Usai makan, imam sayfii mohon izin untuk istirahat di kamar. Rupanya, sang putri masih penasaran dengan sosok imam syafii. Tanpa sepengetahuan tamunya, putri imam ahmad terus mengawasi aktifitas imam syafii dikamarnya melalui lubang pintu. Ternyata imam syafii tengah merebahkan tubuhnya ti tempat tidu.

Pada sepertiga malam, sang putri kembali mengintip imam syafii. Ia ingin tahu apa yang dilakukan imam syafii di sepertiga malam terakhir.
Hasilnya? Sang putri terkejut dengan apa yang disaksikan. Ia melihat imam syafii masih tertidur. Sementara ayahnya, tenga larut dalam qiyamul lail. Ia semakin menyaksikan kealiman imam syafii.

“ulama besar nggak bermutu! Bukannya qiyamul lail, malah tidur. Gimana ceritanya bisa disebut ulama besar?” gumam sang putri.

Karena penasaran, sang putri imam ahmad megintai imam syafii sampai subuh, ketika shalat subuh tiba, imam syafi'i bangkit dari tempat tidurnya. Sang putri bergegas menuju tempat wudhu dan langsung ke tempat shalat. Di sana, ayahnya elah menunggu.

Tidak lama berselang, imam syafii tiba.
Sang putri kembali bertanya-tanya dalam hatinya.

“sepengetahuanku, imam syafii belum mengambil wudhu. Tapi, kok langsung sholat? Wah, nggak bener nih! Ini sih bukan ulama besar..” celoteh sang putri dalam hatinya.

Usai sholat subuh, putri imam ahmad mendekat ke ayahnya dan mengajaknya berbincang. Sementara itu imam syafii telah kembali ke kamarnya.

“ayah, ayah bilang imam syafii adalah ulama besar. Ilmunya luas dan akhlaknya terpuji. Akan tetapi, selama beliau disini, aku perhatikan ada tiga hal yang tidak patut dilakukan oleh seorang ulama. Pertama, ia makannya banyak. Kedua, pada sepertiga malam terakhir, ia tidak qiyamul lail, tetapi malah tidur. Ketiga, saat akan shalat subuh, ia tidak berwudhu terlebih dahulu,” tutur sang putri.

Selanjutnya, imam ahmad mengonfirmasikan apa yang disampaikan putrinya itu kepada imam syafii.

Dengan tersenyum imam syafii berkata
“apa yang dikatakan putrimu itu benar”
“akan tetapi ada alasannya mengapa aku tidak melakukan tiga hal itu, pertama, aku makan cukup banyak semalam karena aku tahu kau adalah orang saleh. Insya Allah, memakan makananmu halal dan baik. Karena itu, aku makan cukup banyak. Makanan halal dan baik akan mendatangkan keberkahan."

"Kedua, semalam aku memang tidak melaksanakan qiyamul lail. Karena, semalaman aku mengarang sebuah buku. Saat aku berbaring untuk istirahat, seolah-olah Al-qur’an dan hadis terbentang di hadapanku. Akupun mengarang sebuah kitab tentang 72 masalah fiqih dan penyelesaiannya yang insya Allah akan memberikan manfaat yang besar bagi umat islam. Karena itu, aku tidak sempat qiyamul lail."

"Ketiga, saat akan shalat subuh, aku memang tidak wudhu lagi. Karena, aku masih memiliki wudhu isya’. Semalaman, sebenarnya aku tidak tidur. Aku berpikir tentang masalah umat dan mengarang buku. Karena itulah, aku tidak berwudhu lagi karena masih memiliki wudhu” terang imam syafii.

Mendengar penjelasan imam syafii, sang putri menyadari kekeliruannya. Ternyata imam syafii memang ulama luarbiasa.

Perhatikan ayat berikut:

“dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, kami akan tunjukan kepada mereka jalan-jalan kami (subulana). Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.”(QS.Al-Ankabut : 69)

Perhatikan kata subulana diatas, Allah menggunakan kata subulana yaitu bentuk jamak yang berarti jalan-jalan. Dan bukan sabilana (yang berarti jalan).
Karena jalan menuju keridhaan Allah itu banyak, tidak hanya satu. Artinya, silahkan kita menempuh sabil apa saja, yang penting bisa mengantarkan kita menuju ahirath. Tentu saja, sabil yang dimaksud di sini adalah sabil yang baik.

Karena didalam Al-quran disebutkan bahwa ada jalan orang yang bertaqwa( sabil al-muttaqin) dan ada juga jalan orang-rang berdosa(sabil al-mujrimin)


Dengan cara pandang demikian, seorang muslim tidak akan bersikap arogan dan menganggap bahwa jalan atau mazhabnya saja yang benar. Bukankah banyak sabil yang dapat mengantarkan kita ke shirath?bukankah banyak jalan yagn dapat mengantarkan kita kepada keridhaan Allah?
Lihat Detail

Qaulan Maisura (kata-kata yang mudah dipahami)

Siang itu, seorang kakek tergopoh-gopoh berjalan memasuki pesawat. Maklumlah, itu pengalaman pertama bagi si kakek naik pesawat. Bagi kakek yang berprofesi sebagai petani di desa terpencil itu, naik pesawat adalah suatu kemewahan. Siang itu, ia akan pergi ke jakarta. Ia akan mengunjungi kebun binatang ragunan, jakarta selatan.

Sesampainya di badan pesawat, kakek itu langsung mengambil tempat duduk di kelas bisnis. Si kakek duduk dengan santai sambil memperhatikan sekeliling. terlihat orang-orang berpakaian rapi, berjas dan berdasi. Kontras dengan dirinya yang memakai pakaian sederhana khas orang desa.

Seorang laki-laki paruh baya mendekati kakek itu. Dari penampilannya sepertinya ia seorang petinggi perusahaan.

"Boleh lihat tiket pesawatnya kek?"

Si kakek menyodorkan selembar kertas yang dipegangnya.
Laki-laki paruh baya itu menerima tiket yang disodorkan si kakek.
Tertulis 59 E. ia tersenyum.

"Maaf kek, ini tempat duduk saya. Tempat duduk kakek dibelakang, kelas ekonomi. Ini kelas bisnis” terang laki-laki aruh baya itu.

“saya enggak ngerti kelas ekonomi, kelas bisnis. Pokoknya saya ingin duduk di sini. Enak saja nyuruh-nyuruh orang pindah. Salah sendiri masuknya telat” ujar si kakek.

Laki-laki paruh baya itu mencoba menjelaskan apa itu kelas ekonomi dan apa itu kelas bisnis. Namun si kakek tetap di tempat tidak mau pindah.

Rupanya seorang pramugari melihat percakapan tersebut. Ia lalu mendekati kakek itu.

“maaf, kek, boleh saya lihat tiketnya?” ujar pramugari sopan

Si kakek menyodorkan tiket ditangannya kepada pramugari itu.

“kakek, tempat duduk kakek dibelakang, di kelas ekonomi. Ini kelas bisnis. Mari saya antar ke tempat duduk kakek” ujar pramugari.

“ini lagi! Sok ngatur-ngatur. Kelas ekonomi atau kelas bisnis, saya tidak peduli! Saya tidak mau pindah.”

“saya pramugari yang memperlancar penerbangan ini.”
“Kalau pesawat ini diibaratkan bus, saya kondekturnya kek”

“lah, kondektur kok nyuruh-nyuruh penumpang seenaknya. Saya tidak mau pindah titik!”

Rupanya, perdebatan itu menarik perhatian seorang laki-laki muda yang tidak jauh dari tempat duduk si kakek. Ia lalu mendekatinya.

“maaf kek, tujuan kakek mau kemana?”

“kakek mau ke kebun binatang ragunan”

“oh, kalau kakek mau ke ragunan, kakek duduknya dibelakang, dikursi nomor 59 E. kalau yang didepan ini mau ke sukarno-hatta.” Terang laki-laki muda itu.

“oh, begitu. Coba bapak dan mbak ini bilang begitu dari tadi, saya pasti mau pindah” ujar si kakek.

Kakek itupun pindah ke kelas ekonomi dengan sukarela.
Lihat Detail

Setan tak pernah putus Asa

Dulu dikalangan bani israil, ada seorang ahli ibadah (abid) yang sangat termashur.
Selain beribadah, orang tersebut juga mengajak orang–orang dikampungnya untuk turut beribah kepada Allah, hal ini membuat setan gusar, ia tidakrela menusia beribadah kepada Allah.

Beragam cara dilakukan setan untuk menggoda si abid, namun usahanya selalu kandas di tengah jalan, uapaya setan untuk menggoda dan menyesetkan selalu berakhir dengan kegagalan. Justru abid semakin taat beribadah kepada Allah. Setanpun pusing tujuh keliling. Ia memutar otak bagaimana caranya menggoda dan menggelincirkan abid.

Sementara itu, di ujung kampung tinggallah empat orang saudara. Tiga orang laki-laki dan yang termuda seorang perempuan berparas cantik. Tiga saudara itu tengah bingung. Mereka mendapat  penggilan untuk berangkat ke medan perang karena mereka berstatus prajurit.

Namun, mereka bingung dengan nasib adik perempuannya. Jika dititipkan ke orang kampung, siapa orang yang bisa dipercaya. Akan tetapi jika diajak serta ke medan perang, justru kondisinya akan lebih buruk. Bagaimana jika adiknya tertawan oleh musuh?

Ditengah kebingungan mereka, setan membisikan ke hati tiga saudara mereka  agar menitipkan adiknya ke abid, abid tampaknya cukup bisa dipercaya menjaga adiknya.

"Ohh iya kenapa kita tidak terpikir? Dikampung kita kan ada orang abid yang soleh dan selalu menjaga dari hal-hal yang tercela. Kita titipkan saja adik kita kepadanya” usul saudara tertua.

"Betul juga. Kita titipkan saja adik ke si abid itu." sambung saudara ke tiga

"Aku juga setuju" ujar saudara kedua

Akhirnya mereka berangkat menuju rumah abid untuk menitipkan adiknya. Sesampai di rumahnya, saudara tertua mengutarakan meksud kedatangan mereka. Abid menolak ia tidak bersedia menerima amanah itu.

"Wahai abid jika engkau tidak bersedia kepada siapa lagi kami akan menitipkan adikkami. Kami lebih percaya menitipkan adik kami kepada engkau. Bisa saja kami titipkan kepada salah seorang warga kampung ini, namun jika mereka tidak amanah dan terjadi sesuatu pada adik kami, tentulah engkau yang ikut bertanggung jawab. Karena engkau menolak maksud kami, sehingga kami terpaksa menitipkan adik kami kepada orang yang belum tentu bisa dipercaya" Terang saudara tertua

Abdi bimbang, disatu sisi ia tidak mau membuka celah untuk setan, tapi disisilain ia juga bertanggung jawab terhadap nasib gadis itu, akhirnya abid memutuskan menerima gadis itu untuk tinggal di tempatnya.

"Baiklah, aku bersedia menerima amanah ini , adikmu bisa tinggal dipondokan di depan pondokanku aku bisa mengawasi adikmu dari jendela pondokanku" Ujar abid

Ketiga saudarpun menitipkan adik perempuan mereka kepada abid, dan mereka berangkat ke medan perang dengan perasaan lega, kerana adik mereka berada dalam penjagaan dan pengawasan abid.
Abid mengatur segala keperluan gadis itu dengan sebaik-baiknya agar tidak timbul fitnah.

Jika waktu makan tiba ,abid meletakkan sepiring makanan dan segelas minum di depan pintu pondokannya. Lalu ia memberi tahu gadis itu bahwa makanan sudah siap. Gadis itu pun membuka pintu dan keluar mengambil makanan dan minuman yang diletakkan abid di depan pintu pondokan abid. Hal ini berlangsung selama beberapa waktu.

Setan yang sejak awal geram kepada abid, memanfaatkan situasi ini untuk menggoda dan menyesatkan abid,

“sebaiknya mekanan itu tidak kautaruh di depan pintu pondokan mu ,bagaimana jika saat gadis itu keluar mengambil makanan terlihat oleh laki-laki yang tidak baik, hal ini bisa mendatangkan bahaya bagi gadis itu. Lebih bagus dan berpahala jika kau meletakkan makanan dan minuman untuk gadis itu didepan pintu pondokannnay. Kaulah yang keluar dan meletakkan nya disana, itu lebih menjaga keselamatan gadis itu."

Abid mencoba mencerna bisikan yan muncul dalam hatinya.

"Masuk akal juga. memang sebaiknya sihh begitu.." pikir abid.

Ia lupa bahwa itu adalah bisikan setan yang sedang mencari jalan untuk menggoda dan menyesatkan dirinya.

Maka setiap waktu makan tiba, abid keluar dari pondokannya dan meletakkan makanan dan minuman di depan pondokan gadis itu. Ia kembali ke pondokannany, lalu ia memberitahu si gadis bahwa makanan sudah siap. Kemudian gadis itu tinggal membuka pintu dan mengambil makanan tersebut. 

Hal ini berlangsung selama beberapa waktu.

Setan yang licik benar-benar tekun dan sabar menjalankan rencananya dalam menggoda abid. Setan membisikan ke dalam hati abid

"Rasanya kurang baik juga meletakkan makanan itu di depan pintu pondokan gadis itu, baaimana jika ada binatang yang memakan makanan itu? Tentu mubadzir, lebih baik dan berpahala jika kau mengetuk pintu pondokan gadis itu dan memberikannya langsung kepadanya"

Abid kembali termakan oleh hasutan setan, ia tidak menyadarinya. 

"Benar juga kalau ada binatang yang memekan makanan itu tentu itu menjadi mubadzir dan gadis itu tidak mendapatkan jatah makan" Pikir abid.

Maka ketika waktu makan tiba, abid mengantarkan makanan itu ke pondokan si gadis, mengetuk pintunya dan menyerahkan langsung kepadanya.

tentu saja saat menyerahkan makanan abid beradu pandang dengan gadis itu.
Hal ini berlangsung beberapa waktu.

Setanpun kembali melancarkan aksinya, setan benar-benar licik, ia perlahan-lahan menjalankan strateginya, secara sepintas, apa yang dilakukan abid itu wajar, tetapi sesungguhnya inilah perangkap setang yang siap menjeratnya.

Setan membisikan ke dalam hati abid.

"kasihan gadis itu, kesepian tinggal sendiri di pondokan, sementara kakak-kakaknya masih lama kembali dari medan perang. Ia bisa jenuh dan frustasi, kalau sampai frustasi, ia bisa melakukan sesuatu yang merugikan dirinya sendiri. Sesekali ajaklah dai mengobrol sekadar untuk mengusir kejenuhan dia"

Abid memikirkan bisikan yang berhembus di dalam hatinya.

“masuk akal juga sudah lebih dari dua bulan ia berada di sini , ia bisa merasa jenuh dan frustasi. Aku tidak mau dimintai tanggung jawab kalau gadis itu melakukan sesuatu hal yang merugikan dirinya. Jadi memang  ada baiknya sesekali aku mengajaknya ngobrol" gumam abid

sepertinya jalan pikiran abid mulai bisa dikendalikan oleh setan.

Sesekali abidpun berkunjung ke pondokan gadis itu dan mengajaknya ngobrol, ia tidak sadar jika di pondokan itu hanya berdua dengan si gadis. Itu artinya pihak ketiga dari keduanya adalah setan.

Hal ini berangsung beberapa waktu.

Abid terlihat akrab setiap kali mengobrol dengan gadis itu.

Suatu ketika saat abid sedang mengobrol dengan gadis itu, setan membisikan jurus mautnya

"Hai abid, lihatlah gadis itu ,cantik bukan? Perhatikan mulai dari ujung rambut sampai ujung kakinya.menggairahkan bukan? Apakah kau tidak tertarik dengannya?di pondokan ini hanya ada kalian berdua ,manfaatkan kesempatan ini"

Setan menyerang benteng iman abid bertubi-tubi di tambah lagi situasi yang memungkinkan untuk melakukan perbuatan nista itu.

"Kau tenan saja, gadis itu tidak akan cerita apa-apa kapada kakaknya, masalah dosa kau bisa bertaubat, kau sendiri kan tahu Allah maha pengampun"

setan terus menghasut abid agar melakukan perbuatan nista itu .

Akhirnya iman abid goyah, akalnya terbutakan oleh nafsu yang semakin memuncak. Perbuatan nista itupun terjadi.abid menyetubuhi gadis itu.

Setan tertawa merayakan kemenangannya, namun ia belum puas, ia ingin abid jatuh ke jurang dosa yang lebih dalam. Kali ini setan menakut-nakuti abid.

Setan membisikan ke dalam hati abid

"kau telah berbuat dosa besar, mungkin kau bisa bertaubat kepada Allah, tapi bagaimana dengan gadis itu? apakah kau percaya ia tidak akan bercerita kepada kakak-kakaknya? Tidak mungkin. Cepat atau lambat gadis itu pasti menceritakan kejadian tersebut pada kakak-kakaknya. Jika sampai demikian, habislah riwayatmu. Reputasimu hancur. Lebih dari itu orang sekampung akan menghukummu, jadi lebih baik kau bunuh saja gadis itu agar rahasiamu tidak terbongkar."

Abid meras kalut. Pikiran dan bisikan jahat terus berlalu-lalang dalam hati dan pikirannya, ia gelisah memikirkan nasibnya. Sementara itu setan terus menghasut abid agar membunuh gadis itu.

"Kau tenang saja dengan membunuh gadis itu masalah selesei, tidak ada yang tahu kaulah pembunuhnya, jika kakak-kakaknya tiba dari mendan perang dan menenyakan adiknya, katakan saja adiknya sakit keras dan akhirnya meninggal dunia" Hasur setan

Abid mulai goyah, hatinya yang keruh dan pikirannya yang kalut membuatnya tidak dapat berpikir jernih.

Akhirnya ia menuruti bisikan jahat yang dihembuskan setan.

Abid membunuh gadis itu dan menguburkannya di pintu belakang pondokan. Tidak ada orang yang mengetahui hal itu. Setan kembali merayakan kemenangannya, ia berhasil membuat abid melakukan dosa besar lagi.

Sekian waktu berlalu, kakak-kakak gadis itu pulang dari medan perang. Mereka bermaksud menjumpai adik bungsunya yang sudah sekian bulan ditinggalkan.

Tiga saudara itu pun langsung menuju pondokan abid, mereka menanyakan adik perempuan yang dititipkan di pondokannya.

Abid menyampaikan kepada kakak-kakak gadis itu bahwa adiknya sakit keras dan akhirnya meninggal. Ia lalu mengantar mereka dan menunjukan kuburan gadis itu.

Dengan perasaan sedih yang mendalam, tiga saudara itu memanjatkan doa untuk adiknya, setelah itu mereka berpamitan dengan abid. Meraka tidak curiga sama sekali kepada abid karena reputasinya yang dikenal sebagai ahli ibadah.

Sementara itu, setan belum puas memperdaya abid. Kali ini setan melancarkan aksinya, ia membisikan rasangka buruk dalam hati tiga saudara itu.

Setan menghembuskan ke hati dan pikiran tiga saudara itu

"apakah kau percaya begitu saja kepada ucapan abid? Bukankah sewaktu dititipkan kepadanya adikmu dalam keadaan sehat? Mungkinkah ia mendadak sakit keras? Rasanya tidak demikian. Mungkin saja ada sesuatu yang dirahasiakan abid."

Pikiran tiga saudara itu terpengaruh oleh bisikan setan. Mereka menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi dengan adiknya

Setan kembali menanamkan kecurigaan kepada tiga bersudara itu

"mungkin saja abid tergoda oleh pesona kecantikan adikmu. Ia tidak kuat menahan diri. Lalu, adikmu diperkosa olehnya. Untuk menutupi aib, abid membunuh adikmu”

demikianlah setan menghasut tiga bersaudara itu dengan menanaman prasangaka buruk dan kecurigaan.

Tiga saudara itu terpengaruh. Mereka curiga kepada abid. 

"Jangan-jangan prasanganka kita benar" kata saudara termuda

"Iya, tidak ada salahnya kita menyelidiki kasus kematian adik kita" Ucap saudara tertua.

Mereka memikirkan bagaimana caranya mencari tahu kejadian yang sebenarnya. Akhirnya mereka sepakat untuk menanyakan kabar kematian adiknya kepada warga kampung. Karena tentunya warga mengikuti prosesi pengurusan jenazah dan penguburannya.

Ternyata setelah ditanyakan tidak ada seorangpun yang mengetahui kematian adik mereka dan tidak ada seorangpun yang mengikuti prosesi pengurusan jenazah dan penguburannya.

Tiga saudara itu semakin curiga kepada abid. Jangan-jangan prasangka mereka memang benar. Merekapun sepakat untuk langsung mengonfirmasinya kepada abid. Tiga bersaudara itu menemui abid. Sesampainya di sana mereka menyampaikan maksud mereka.

"Wahai abid, bukan kami tidak percaya dengan ceritamu. Akan tetapi agar hati kami tenang, lakukanlah sumpah dengan menyebut nama Allah bahwa memang benar adikku meninggal karena sakit. Jika kau berbohong, nyatakan dalam sumpahmu bahwa kau bersedia dilaknat oleh Allah di dunia maupun di akhirat” Ujar saudara tertua.

Abid terkejut. Mukanya pucat. Ia tidak menyangka mereka menaruh curiga kepadanya. Abid bingung. Di satu sisi ia tidak mau aibnya terbongkar. Tapi di sisi lain, ia juga tidak mau melakukan sumpah itu. Karena konsekwensinya sangat berat. Melakukan sumpah tersebut berarti menyatakan diri siap diazab oleh Allah. Karena sebenarnya gadis itu meninggal karena ulahnya.
Saat abid diselimuti rasa kebingungan.

Tiga bersaudara itu mendesaknya agar segera melakukan sumpah dengan nama Allah. Abid tersudut.

Akhirnya ia menceritakan kejadian yang sebenarnya, ia mengakui bahwa ia telah memerkosa gadis itu dan membunuhnya.

Kontan saja, amarah tiga saudara itu meledak. Mereka langsung menyeret abid untuk dihukum mati. Abid tidak bisa mengelak. Tidak lama kemudian, warga sekampung datang beramai-ramai. Mereka menghajar abid.

Saat itulah setan kembali menyampaikan diri di depan mata abid. Setan berkata

“wahai abid, tahaukah kau, apa yang kau alami sekarang adalah karena kau menuruti hasutanku. Aku tidak punya kekuatan untuk memaksamu melakukan dosa besar itu . aku hanya menggoda dan membisikannya kedalam hatimu. Ternyata kau menuruti bisikanku. Sekarang, maut sudah ada didepan matamu. Kali ini, aku bersimpati kepadamu. Aku mau menolongmu agar terlepas dari maut asal kau mau menuruti perintahku.”

"Apa itu?" Tanya abid dengan suara parau

"Kau sujud kepadaku dengan isyarat menganggukkan  kepalamu. Niscaya aku akan membebaskanmu dari ancaman maut ini” kata setan


Hukuman mati di depan mata membuat abid kalut. Tanpa berpikir lagi, ia pun menganggukkan kepalanya sebagai tanda sujud kepada setan. Setelah itu, setan berlalu meninggalkan abid dengan tawa kemenangan. Sementara itu, abid tewas terpacung tanpa membawa iman.
Lihat Detail
 
Copyright © 2014. BukaBaju Template - Design: Gusti Adnyana