Malik bin Dinar dan masa lalunya
Pagi itu, kaum muslimin berduyun-duyun menuju Masjid Kuffah.
Dalam waktu yang tidak lama, Masjid Kufah telah penuh sesak dipadati kaum
muslimin hendak mendengarkan ceramah dari seorang ulama besar asal Irak
sekaligus imam besar masjid kufah, Syaikh Malik bin Dinar.
Tidak seperti biasanya, kali ini, sang guru duduk di depan
jamaah dengan wajah tertunduk. Butiran air mata tampak menetes dari sudut kedua
matanya. Suasana senyap. Jamaah hening tak mengerti apa yang terjadi dengan
sufi kenamaan itu.
Kemudian, syaikh Malik bin Dinar mengangkat kepalanya.
Suasana masih senyap. Tidak lama berselang, ia memanjatkan puja dan puji syukur
ke hadirat Allah SWT dan shalawat kepada Rasulullah saw.
“kaum muslimin sekalian, sebenarnya aku tidaklah sebaik yang
kalian sangka. Masa mudaku sangat kelam. Kalaulah bukan karena hidayah dan
rahmat Allah, aku tidak mungkin berada di masjid ini” tutur malik bin dinar
membuka ceramahnya.
“sewaktu muda aku adalah seorang polisi. Aku ditugaskan
disebuah provinsi yang memiliki pasar sangat ramai. Semestinya, aku menjaga
keamanan dan ketertiban di pasar itu.
Akan tetapi, aku justru melakukan hal
sebaliknya. Aku memeras para pedagang di sana. Banyak orang yang kusakiti.
Boleh dikatakan, hampir setiap orang di pasar itu pernah saya zalimi. Bahkan,
tidak sedikit jiwa yang melayang akibat kejahatanku.
Suatu hari, aku melihat seorang penjual yang tengah beradu
mulut dengan seorang pembeli. Aku menghampirinya dan menanyakan apa duduk
perkaranya.
Rupanya, si pembeli ingin membeli barang si penjual dengan harga
rendah. Sementara, si penjual tidak mau dibeli dengan harga tersebut.
Aku mengayunkan tangan hendak memukul si pembeli. Namun
tiba-tiba seorang kakek melarangku melakukannya. Entah kenapa, aku menuruti
kata-kata kakek itu. Seketika itu aku menghentikan ayunan tinjuku.
Kakek itu
tampak sederhana, namun wajahnya memacarkan cahaya keimanan dan keluhuran
akhlak. Si kakek menasihati si penjual da si pembeli hingga akhirnya mereka
berdamai.
“tuan, aku datang dari jauh dan hendak pulang ke rumah. Aku
ingin membelikan buah tangan untuk anak-anak perempuanku. Akan tetapi, aku
tidak mempunyai uang. Maukah tuan membelikan buah tangan untuk anak-anakku?”
pinta kakek itu kepadaku.
Entah kenapa, aku kembali menuruti permintaan kakek itu. Aku
membelikan buah tangan untuk anak-anak perempuannya
“ini,kek. Berikan sebagai buah tangan untuk anak-anak kakek.
Sampaikan pada anak-anak kakek, doakan agar rahmat Allah tercurah kepadaku,”
ujarku.
Hari berganti hari. Namun, peristiwa pertemuan dengan si
kakek itu begitu membekas di dalam hatiku. Suatu hari, aku melihat seorang
budak perempuan yang cantik di pasar. Hatiku langsung tertarik. Kemudian aku
menikahi perempuan itu.
Sejak menikah, hidupku terasa begitu indah. Aku seolah-olah
lupa dengan segala kejahatanku. Terlebih, setelah Allah mengaruniakan seorang
anak perempuan yang jelita kepada kami.
Kebahagiaan kami semakin bertambah.
Namun, cobaan datang belum lama aku menikmati kebahagiaan memiliki anak,
istriku meninggal dunia.
Sejak saat itu, seluruh perhatianku aku curahkan kepada
putriku. Aku merawat da membesarkan putriku dengan penuh perhatian.
Tidak
terasa, putriku sudah berumur dua tahun ia tumbuh menjadi anak yang sehat dan
lucu. Namun, suatu hari saat aku pulang bekerja, aku mendapati putriku
mengerang kasakitan. Aku langsung mencarikan obat dan memanggil dokter.
Namun,
putriku belum juga membaik. Malah, kondisinya semakin menurun. Akhirnya,
putriku pun meninggal dunia.
Aku sangat terpukul dengan kematian putriku. Aku tak kuasa
menahan sedih yang menusuk hati. Air mataku pun tertumpah. Aku ciumi anakku
sebelum kukuburkan dengan tanganku sendiri.
Sejak saat itu, hidupku kembali kacau. Aku
mabuk-mabukan, memeras pedagang, dan bersikap kasar kepada siapa saja yang
kutemui.
Suatu hati, aku melihat seorang perempuan dan anak kecil
yang sedang membawa makanan. Aku merampas makanannya. Aku tidak peduli dengan
teriakan perempuan itu. Bahkan, tangisan anaknya yang mengiba pun tidak
kuhiraukan.
Malamnya, aku langsung pulang kerumah. Aku tertidur pulas dan
bermimpi.
Dalam mimpi itu seolah kiamat sudah terjadi. Aku berada di
suatu tempat yang asing.
Tiba-tiba, aku mendengar suara bergemuruh. Aku menoleh
ke asal suara. Ternyata ia seekor ular besar. Ular itu bergerak ke arahku dan
hendak memangsaku. Aku langsung lari menyelamatkan diri.
Saat itu, aku melihat
seorang lelaki tua. Aku meminta tolong kepadanya. Namun, lelaki tua itu tak
berdaya. Ia hanya bisa mendoakan semoga Allah menyelamatkanku. Ia
tidak dapat berbuat banyak karena kelemahannya. Ia menyarankanku untuk lari
lebih cepat lagi.
Aku segera berlari lebih cepat dari sebelumnya. Aku naik ke
tempat yang sangat tinggi di samping neraka.
Saking takutnya, tubuhku gemetar dan hampir saja terjatuh ke
dalamnya. Aku tak tahu mau lari kemana lagi. Aku pun memutuskan kembali ke
tempat lelaki tua itu berada, sementara ular tersebut tetap mengejar dari
belakang.
Aku kembali meminta bantuannya. Tapi ia tetap tidak berdaya untuk
membantu.
“pergilah ke gunung itu, disana banyak simpanan kaum
muslimin. Semoga bisa menolongmu,” ujar lelaku tua itu.
Aku pandangi gunung yang ditunjuk lelaki tua itu. Luar
biasa. Gunung itu bercahaya dan berkilauan seperti permata. Pada setiap tempat,
terdapat gorden yang indah. Daun pintunya terbuat dari emas yang memancarkan
warna keemasan. Daun pintu itu ditutup gorden dari sutera halus yang makin
memperindah setiap mata yang melihatnya.
Aku segera menuju ke gunung itu, sementara ular tetap
mengejar di belakangku.
Ketika aku sudah mendekati tempat itu, terdengar suara
malaikat,
“angkatlah gorden-gorden itu dan bukalah pintunya!”
Begitu masuk, aku melihat anak-anak laksana purnama yang
bersinar. Aku bahagia bercampur kaget karena putriku yang telah meninggal
ternyata ada disana.
Ketika ular itu makin mendekat, sebagian anak-anak itu
berkata pada sebagian yang lain,
“cepat naiklah kalian, ular itu sudah datang.”
Anak-anak itu naik satu per satu, sementara aku masih
termanug memerhatikan mereka. Tiba-tiba putriku berkata,
“ayah, kemarilah,
cepat naik!”
Percikan cahaya keluar dari telapak tangan putriku. Lalu, ia
ulurkan tangan kirinya dan menggenggam tangan kananku, sementara tangan
kanannya ia arahkan ke ular itu. Seketika ular itu lari tunggang langgang.
Aku
dekap putriku erat-erat. Aku ciumi dengan penuh linangan air mata seolah aku
takut kehilangan dia untuk kedua kalinya. Aku angkat tangannya untuk memegang
janggutku dan kami saling bercanda sabil aku pandangi terus-menerus kadua
matanya yang indah itu.
Lalu ia berkata,
“wahai ayahku, tidakkah ayah mendengar
firman Allah dalam surat al-hadid ayat 16,"
“belum tibakah waktunya bagi orang-orang beriman untuk
secara khusuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan
(kepada mereka), dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah
menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang, sehingga
hati mereka menjadi keras. Dan banyak diantara mereka menjadi orang-orang
fasik.”
Begitu mendengar ayat itu, aku langsung menangis tersedu-sedu.
“wahai buah hatiku, kau mengetahui ayat Al-Qur’an?”
Ia menjawab,
“aku mengetahuinya dari Ayah.”
“anakku, jelaskanlah apa sesungguhnya maksud ular yang
hendak mencelakakan ayah!”
“itu adalah gambaran amal jahat ayah yang begitu kuat ingin
menyeret ayah ke neraka jahim.”
“kalau lelaki tua tak berdaya itu, apa maksudnya?”
“itulah amal saleh ayah yang sangat jarang ayah perkokoh,
sehingga tidak dapat menyelamatkan ayah karena lemah.”
“lantas, apa yang kalian kerjakan di gunung ini?”
“putra-putri kaum muslimin yang meninggal ketika masih kecil
semuanya tinggal disini menunggu datangnya hari kiamat. Aku menunggu ayah
datang, dan dengan izin Allah, aku memberi syafaat bagi ayah.”
Tiba-tiba aku terbangun dari mimpi itu dengan rasa takut
yang luar biasa. Peluh bercucuran membasahi tubuh. Kemudian, aku mengambil
tongkat dan kupecahkan botol-botol minuman keras yang berjejer tidak jauh dari
tempat tidur.
Sejak saat itu, aku sungguh-sungguh bertaubat dan memohon
ampun kepada Allah atas segala dosa yang telah kuperbuat. Aku bertekad
mengarahkan semua gerak dan langkah hidup hanya untuk beribadah kepadaNya.
Namun demikian, harus kuakui bahwa sesungguhnya ibadah yang kulakukan pada awal
tobat, itu karena takut akan ular yang hadir dalam mimpiku, belum betul-betul ikhlas
mengharapkan keridhaanNya.
Beberapa hari setelah aku bertaubat, kota kami dilanda
kekeringan. Kami diuji oleh Allah dengan musim kemarau yang membakar. Hujan
seolah tak mau turun, sehingga semua tanaman kering. Banyak hewan ternak yang
mati kehausan. Kelaparan pun merajalela. Air sangat sulit didapatkan.
Ketika aku sedang duduk berdoa di sebuah masjid, tiba-tiba
masuk seorang laki-laki berkulit hitam. Betisnya kurus, perutnya buncit.
Ia
shalat dua rakaat kemudian berdoa,
“ya Allah, aku bersumpah dengan kecintaanMu
terhadapku, tolong turunkanlah hujan pada kami saat ini juga.”
Tidak lama setelah laki-laki itu berdoa, tiba-tiba hujan
turun dengan derasnya sehingga orang-orang pun keluar menyambutnya dengan
gembira.
Sebelum orang itu keluar, aku mendekatinya.
“tuan, aku
mendengar tuan tadi berkata, “aku bersumpah dengan kecintaaMu terhadapku,”
darimana tuan mengetahui kalau Dia mencintai tuan?”
Laki-laki itu menjawab,
“wahai tuan, bagaimanakah keadaanku
jika Allah tidak memberikan kecintaanNya kepadaku? Tidakkah tuan mengetahui
bahwa Allah Maha luas ampunanNya dan sangat besar sayang-Nya terhadap
hamba-hambaNya?”
Kemudian, laki-laki itu berlalu meninggalkanku yang masih
kebingungan. Sejak hari itu, aku bertekad untuk beribadah kepada Allah bukan
karena takut ular, melainkan betul-betul karena mengharapkan keridhaanNya.”
Usai bercerita, Malik bin dinar terdiam beberapa saat.
Kemudian, ia melanjutkan pembicaraanya,
“hadirin sekalian! Ketahuilah, sesungguhnya Allah maha
penyayang, maka bergembiralah dengan kasih sayangNya. Sungguh, Allah sangat
mencintai kalian yang seandainya kalian mengetahui begitu besar cintaNya,
kalian tidak akan pernah berbuat maksiat.
Apakah kalian mencintai Allah? Kalau demikian, ketahuilah
bahwa tanda-tanda kalian mencintai Allah adalah kalian tidak berhenti berzikir.
Karena sesungguhnya seorang pencinta akan sesering mungkin menyebut nama
kekasihnya yang dicintainya.
Bertobatlah kalian, wahai hamba Allah, mumpung kalian masih
diberi napas dan kesempatan. Karena, sesungguhnya Allah akan menerima setiap
tobat yang keluar dari mulut dan hati yang tulus. Marilah kita jadikan hari ini
sebaga hari pertobatan kita,” tutur Malik bin Dinar mengakhiri tausihnya.
Posting Komentar