Filosofi Batu
Di sebuah pesantren, seorang santri menatap bayangan tubuhnya di bawah sinar rembulan yang redup. Dari guratan wajahnya, tampak ia sedang merasa putus asa.
Maklumlah, meski telah bertahun-tahun menuntut ilmu di pesantren, ia masih saja tidak naik kelas. Tak heran jika teman-temannya menganggap dirinya bodoh.
Terbesit di hatinya untuk pergi dari pesantren. Ia merasa tidak kuat lagi berada di tempat tersebut. Taman surga itu baginya telah berubah menjadi neraka. Ia pun mengemasi barang-barangnya. Ia memutuskan untuk pulang kekampungnya.
Tepat setelah sholat subuh, ia meninggalkan pesantren tanpa pamit kepada gurunya. Kakinya terus melangkah meninggalkan pesantren. Ditengah perjalanan, hujan trun rintik-rintik. Santri itu berteduh di sebuah gubuk. Secara tak sengaja, matanya memandang sebuah batu besar yang berlubang karena terus-menerus tertetesi air hujan.
Santri itu mengamati batu tersebut dengan seksama. Ia seperti mendapat pelajaran berharga.
“batu yang demikian keras bisa berlubang karena tetesan air hujan yang terus-menerus. Jika demikian, kebodohanku ini juga akan musnah jika terus menerus terkena tetesan ilmu. Aku tidak boleh menyerah,” gumam santri itu.
Santri itu tak jadi pulang kampung. Ia memutuskan kembali ke pesantren. Ia semakin giat belajar. Waktunya digunakan secara optimal untuk belajar.
Di kemudian hari, santrin itu menjadi ulama besar, seorang ahli hadits terkemuka dan pengarang kitab fathul bari syarh shahih bukhari yang dipelajari umat islam di dunia sampai sekarang.
Santri itu tak lain adalah ibnu hajar al-asqalani.
Orang-orang memberikan julukan ‘ibnu hajar’ (putra batu) kepadanya karena beliau mengambil pelajaran dari filosofi batu.
Posting Komentar