Pesan Kejujuran
“ingat, nak. Pesan ibu, di mana pun dan dalam kondisi
apapun, berkatalah jujur. Jangan pernah
berdusta!” pesan sang ibu kepada anaknya yang hendak pergi menuntut ilmu.
Si anak yang masih remaja mendengarkan nasihat ibunya dengan
seksama dan menancapkannya ke dalam hati. Ia bertekad melaksanakan pesan ibunya
itu.
“baik, bu. Saya akan melaksanakan Pesan dan nasihat ibu”
ujar si anak. Kemudian, ia mengecup tangan ibundanya dengan takzim, berpamitan
dan mengucapkan salam.
Ada rasa yang berat berpisah dengan ibundanya yang
dicintainya.
sejak ayahandanya meninggal, ia sangat dekat dengan ibunya. Ia
bersyukur kepada Allah dikaruniai seorang ibu yang lembut, teguh imannya, dan
penuh kasih sayang kepada anaknya.
Namun, perasaan itu sebisa mungkin ia
kelola. Bagaimanapun, menuntut ilmu adalah perintah Allah yang harus
ditunaikan. Remaja itu melangkahkan kaki meninggalkan kampung halamannya untuk
menuntut ilmu di Baghdad, Irak.
Sang ibu tak bisa menyembunyikan perasaan harunya saat
melepas kepergian putranya. Namun, dalam hatinya ia sangat mendukng niat
putranya untuk menuntut ilmu. Ia ingin putranya menjadi orang yang berilmu yang
dapat memberikan pencerahan bagi umat.
Sekuntum doa ia lantunkn mengiringi
langkah-langkah putranya pergi.
Remaja itu tak lain adalah Abdul Qadir. Kelak, ia tumbuh
menjadi seorang Waliyullah yang memberikan pencerahan bagi umat islam. Ia
dikenal dengan nama Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani.
Karya-karyanya hingga kini
banyak dibaca dan dipelajari oleh umat islam di seluruh dunia.
Ada satu
pelajaran yang bisa kita petik dari perjalanan Abdul Qadir dalam menuntut ilmu.
Abdul Qadir pergi ke Irak bersama rombongan dagang yang akan
berniaga ke syam.
Di tengah perjalanan mereka dicegat oleh para perampok. Para
perampok itu merampas semua barang dagangan milik para khafilah. Hanya Abdul Qadir yang luput dari perhatian mereka. Mungkin karena berpikir abdul qadir
yang masih remaja itu tidak memiliki harta apa-apa selain baju sangat sederhana
yang dikenakannya.
Ketika perampok lain tengah mengemasi harta rampokan, salah
seorang perampok mendekati Abdul Qadir. Mungkin dia penasaran, mengapa anak
remaja itu mengikuti khafilah dagang.
“hai bocah ingusan, ngapain kamu di sini?” tanya perampok
itu kasar.
“aku hendak menuntut ilmu ke baghdad” jawab Abdul Qadir
“apa kau punya harta?” tanya peramok itu dengan mimik tidak
yakin.
“ya, aku memiliki uang empat puluh dinar,” ujar Abdul Qadir
tegas. Sedikitpun tidak ada rasa takut dalam dirinya. Karena, ia yakin Allah
senantasa melindunginya. Ia juga ingat pesan ibunya agar selalu berkata jujur.
“empat puluh dinar? Yang benar saja. Aku tidak percaya! Mana
mungkin gembel sepertimu punya uang empat puluh dinar?” Perampok itu bimbang. Antara percaya dan idak.
Akhirnya, ia
memutuskan untuk melapor kepada
pimpinannya yang tengah bersiap menaiki kudanya setelah mengemasi harta
rampokan bersama anak buahnya yang lain.
“hai, anak muda! Kata anak buahku, kau mengaku memiliki uang
empat puluh dinar. Apa itu betul? Jangan coba-coba membohongi dan mempermainkan
kami! Kau bisa kami bunuh!” gertak kepala perampok.
“aku mengatakan sebenarnya. Anak buahmu saja yang tidak
percaya,” ujar Abdul Qadir, tenang. Gertakan kepala perampok sama sekali tidak
membuatnya ciut.
“tunjukan uangmu!” ujar kepala perampok memerintah.
Abdul Qadir merogoh saku bagian dalam jubahnya. Tangan
kanannya lalu menggenggam sebuah buntelan kain. Ia pun kemudian membukanya.
“ini uangku. Jumlahnya empat puluh dinar,” tegas Abdul Qadir
sambil memperhatikan uang miliknya kepada kepala perampok.
Mata kepala perampok itu terbelalak. Antara percaya dan tidak
dengan penglihatannya. Kepingan-kepingan uang emar (dinar) menari-nari di depan
matanya.
Aneh. Biasanya ia langsung merampas harta milik korbannya.
Namun, kali ini kepada perampok itu hanya termangu sekian lama. para anak
buahnya pun heran dengan pemimpinnya.
“apa yang terjadi dengan pemimpin kita? Tidak biasanya ia
bersikap seperti itu,” ujar seorang anak buah kepada kawannya.
“entahlah, aku juga tidak mengerti. Kita lihat saja dulu,”
terang anak buah lainnya.
“mengapa kau tidak berbohong kepada kami dengan berpura-pura
tidak memiliki uang? Padahal, jika kau berbuat demikian, kau tidak akan
kehilangan uangmu. Kamipun sama sekali tidak menaruh curiga kepadamu. Akan
tetapi, kau justru mengatakan sejujurnya dan aku perhatikan kau seperti tidak
takut sama sekali berhadapan dengan kami. Padahal, kami sudah terkenal sebagai
peramok yang kejam yang tidak sungkan membunuh korban,” tanya kepala perampok
panjang lebar.
“ibuku berpesan kepadaku agar aku selalu berkata jujur
dimanapun dan dalam kondisi apapun. Karena, kejujuran akan membawa kepada
kebaikan dan kebenaran, dan kebenaran akan membawa ke surga. Aku juga tidak
takut kepadamu. Karena, memang tidak ada yang perlu ditakuti dari seorang
manusia. Hanya Allah yang berhak ditakuti,” terang Abdul Qadir.
Seperti tersengat kelajengking, kepala perampok itu lunglai.
Entah apa yang terjadi dengannya. Anak buahnya pun terheran-heran. Mungkin
kata-kata Abdul Qadir menghujam sampai ke dasar hatinya.
Hati nuraninya
tersentuh.
Fitrah manusia yang cenderung kepada kebaikan menyala lagi
di hati perampok itu. Ya, bagaimanapun hitam dan kelamnya kehidupa seseorang,
tentulah masih ada titik putih yang bukan tidak mungkin menjadi jalan hidayah
dan menjadi titik balik kehidupan seseorang. Kepala perampok tersebut mengalami
hal itu.
“selama ini, aku belum pernah bertemu dengan orang yang
begitu berani berhadapan denganku. Kebanyakan orang takut dan gemetar ketika
berhadapan denganku. Akan tetap, hari ini, seorang remaja tidak takut
sedikitpun denganku. Kau berani berkata jujur kepadaku. Aku sadar, ternyata aku
bukan siapa-siapa. Aku ini makhluk lamah yang menganggap diri sendiri hebat.
Aku ingin bertobat kepada Allah,” tutur kepala perampok itu.
“alhamdulillah, itu jauh lebihbaik bagimu. Pintu taubat
selalu terbuka setiap saat,” ujar abdul qadir.
“hai, anak buahku! Kalian sudah dengar kata-kataku tadi. Aku
memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan hina ini. Aku ingin bertobat dan
kembali ke jalan yang benar. Aku tidak akan memaksa kalian. Silahkan kalian
pilih dan tentukan jalan masing-masing. Apakah kalian mengikutiku untuk
bertaubat atau tetap menjadi perampok?” ujar kepada anak buahnya.
Mereka saling berpandangan dan berkata-kata, akhirnya, salah
seorang di antara mereka berkata,
"Sejak awal kami memutuskan untuk mengikuti dan setia
kepadamu. Jika tuan memilih bertaubat, kami juga akan bertaubat.”
Sebagai bukti taubat, para mantan perampok itu mengembalikan
semua harta milik para kafilah dagang. Tidak ada yang disembunyikan sedikitpun.
Kemudian, mereka mengikuti Abdul Qadir menuju Baghdad untuk
menuntut ilmu agama dan memulai kehidupan baru sebagai seorang muslim.
Posting Komentar