Qaulan Maisura (kata-kata yang mudah dipahami)
Siang itu, seorang kakek tergopoh-gopoh berjalan memasuki pesawat. Maklumlah, itu pengalaman pertama bagi si kakek naik pesawat. Bagi kakek yang berprofesi sebagai petani di desa terpencil itu, naik pesawat adalah suatu kemewahan. Siang itu, ia akan pergi ke jakarta. Ia akan mengunjungi kebun binatang ragunan, jakarta selatan.
Sesampainya di badan pesawat, kakek itu langsung mengambil tempat duduk di kelas bisnis. Si kakek duduk dengan santai sambil memperhatikan sekeliling. terlihat orang-orang berpakaian rapi, berjas dan berdasi. Kontras dengan dirinya yang memakai pakaian sederhana khas orang desa.
Seorang laki-laki paruh baya mendekati kakek itu. Dari penampilannya sepertinya ia seorang petinggi perusahaan.
"Boleh lihat tiket pesawatnya kek?"
Si kakek menyodorkan selembar kertas yang dipegangnya.
Laki-laki paruh baya itu menerima tiket yang disodorkan si kakek.
Tertulis 59 E. ia tersenyum.
Laki-laki paruh baya itu menerima tiket yang disodorkan si kakek.
Tertulis 59 E. ia tersenyum.
"Maaf kek, ini tempat duduk saya. Tempat duduk kakek dibelakang, kelas ekonomi. Ini kelas bisnis” terang laki-laki aruh baya itu.
“saya enggak ngerti kelas ekonomi, kelas bisnis. Pokoknya saya ingin duduk di sini. Enak saja nyuruh-nyuruh orang pindah. Salah sendiri masuknya telat” ujar si kakek.
Laki-laki paruh baya itu mencoba menjelaskan apa itu kelas ekonomi dan apa itu kelas bisnis. Namun si kakek tetap di tempat tidak mau pindah.
Rupanya seorang pramugari melihat percakapan tersebut. Ia lalu mendekati kakek itu.
Rupanya seorang pramugari melihat percakapan tersebut. Ia lalu mendekati kakek itu.
“maaf, kek, boleh saya lihat tiketnya?” ujar pramugari sopan
Si kakek menyodorkan tiket ditangannya kepada pramugari itu.
“kakek, tempat duduk kakek dibelakang, di kelas ekonomi. Ini kelas bisnis. Mari saya antar ke tempat duduk kakek” ujar pramugari.
“ini lagi! Sok ngatur-ngatur. Kelas ekonomi atau kelas bisnis, saya tidak peduli! Saya tidak mau pindah.”
“saya pramugari yang memperlancar penerbangan ini.”
“Kalau pesawat ini diibaratkan bus, saya kondekturnya kek”
“lah, kondektur kok nyuruh-nyuruh penumpang seenaknya. Saya tidak mau pindah titik!”
Rupanya, perdebatan itu menarik perhatian seorang laki-laki muda yang tidak jauh dari tempat duduk si kakek. Ia lalu mendekatinya.
“maaf kek, tujuan kakek mau kemana?”
“kakek mau ke kebun binatang ragunan”
“oh, kalau kakek mau ke ragunan, kakek duduknya dibelakang, dikursi nomor 59 E. kalau yang didepan ini mau ke sukarno-hatta.” Terang laki-laki muda itu.
“oh, begitu. Coba bapak dan mbak ini bilang begitu dari tadi, saya pasti mau pindah” ujar si kakek.
Kakek itupun pindah ke kelas ekonomi dengan sukarela.

Posting Komentar