Dia selalu melihat kita
Thawus adalah seorang Tabi’in yang Wara’ dan Saleh.
Kesalehannya sangat dikenal dikalangan masyarakat. Tak heran, ia kerap dimintai
nasihat oleh masyarakat. Banyak orang yang datang meminta nasihat atau menanyakan
suatu masalah kepadanya.
Kabar kesalehan thawus terdengar juga oleh seorang
wanita penggoda. Tentu saja wanita itu cantik dan mempesona. Setiap laki-laki
yang digodanya pasti takluk dan bertekuk lutut. Mendengar kabar kesalehan
thawus, wanita penggoda itu penasaran.
“sekuat apa sih imannya? Apa ia sanggup menahan diri dari
godaanku?” pikirnya dalam hati.
Didorong oleh rasa penasaran, wanita itu menguji keimanan
thawus. Dia berpikir thawus juga akan takhluk dalam dekapannya.
Maka, pada hari
yang sudah ditentukan, wanita penggoda itu bersolek sangat cantik dan menarik.
Kemudaian, ia pergi mendatangi rumah thawus. Tanpa rasa curiga, thawus
mempersilahkan wanita itu masuk dan menanyakan maksud kedatangannya. Di luar
dugaan, wanita itu menggoda dan mengajaknya berzina.
Dengan tenang, thawus menjawab
“hari ini aku sedang sibuk. Kembalilah esok hari. Aku akan
menyambutmu.”
Wanita penggoda itu pulang menuju rumahnya dengan perasaan
gembira.
“katanya ahli ibadah yang wara’ dan shaleh. Namun, baru digoda begitu
saja sudah takluk. Buktinya, dia mengundangku untuk bersenang-senang,” gumam
wanita iu dalam hati.
Esok harinya, wanita penggoda itu berdandan lebih cantik dan
menarik daripada kemarin. Ia mendatangi rumah tahwus dengan hati yang
berbunga-bunga. Ia seperti sudah yakin bahwa thawus telah terpikat oleh
kecantikannya.
Tiba dirumah thawus, ia melihatnya sudah bersiap menyambut
wanita itu.
“ayo kita pergi ke suatu tempat!” ajak thawus.
“lho, memangnya kita akan pergi ke mana? Kita 'bermain' disini
saja.” Ujar wanita itu.
“tenang saja. Aku akan memenuhi keinginanmu, tapi tidak
dirumahku. Ayo ikut aku!”
Wanita itu mengiringi thawus dibelakang. Dalam hatinya, ia
bertanya-tanya hendak ke mana thawus mengajakna berbuat mesum.
“ah, mungkin dia
sudah menyewa tempat yang bagus. Rumahnya memang jelek. Kurang nyaman berbuat
mesum di rumah yang jelek itu.” Gumam wanita itu.
Wanita penggoda itu tampak bersemangat mengikuti langkah
thawus.
Namun, pikirannya kembali bertanya-tanya ketik ia menyadari jalan yang
mereka lalui adalah jalan menuju masjidil haram.
“kemana sebetulnya thawus
hendak megajakku?”
Benar saja. Thawus mengajak wanita penggoda itu ke masjidil
haram. Bukan hanya diluarnya, ia bahkan mengajak wanita itu masuk ke masjidil
haram hingga di depan kakbah. Saat itu orang-orang tengah ramai beribadah
kepada Allah.
“kita sudah sampai di tempat yang dituju. Baiklah, sekarang
tanggalkan pakaianmu. Kita berzina di sini,” ujar thawus.
“apa? Berzina disini? Kau sudah gila ya!”
“lho, bukankah di rumahku atau di tempat ini, Allah
sama-sama melihat perbuatan kita?” ujar thawus.
“kata-kata thawus benar. Bukankah dimana saja aku berbuat maksiat, Allah
mahamelihat dan maha mengetahui? Sekarang, apa kamu berani bermaksiat di dalam
rumah Allah?” Wanita itu tersadar.
Seketika itu juga ia menangis. Terbayang
dalam pikirannya betapa banyak maksiat yang telah dilakukannya.
Ia menyakini
bahwa tiada tuhan selain Allah. Akan tetapi ia tidak merasa diawasi dan dilihat
Allah. Ia dengan asiknya bermaksiat.
Kini, ia menemukan momentum perubahan dan
perbaikan diri. Sejak saat itu, wanita tersebut memutuskan untuk bertobat kepada
Allah dan menjalani hari-harinya untuk beribadah kepada-Nya.

Posting Komentar